Wayang Golek: Keindahan Seni Tradisional dari Tanah Pasundan

Samadya.id | (Pendahuluan) – Wayang golek merupakan salah satu seni pertunjukan wayang khas Indonesia yang berasal dari daerah Jawa Barat, terutama di kalangan masyarakat Sunda. Berbeda dengan wayang kulit yang dimainkan dengan bayangan, wayang golek menggunakan boneka kayu tiga dimensi yang dapat digerakkan oleh dalang melalui sistem kendali tongkat pada bagian dalam tubuh boneka.

Seni ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan, penyebaran nilai-nilai moral, dan media dakwah.

Dalam perkembangannya, wayang golek tidak hanya bertahan sebagai bagian dari budaya Sunda, tetapi juga mulai dikenal dan diapresiasi di berbagai daerah lain, bahkan di kancah internasional. Artikel ini akan membahas sejarah, filosofi, teknik pembuatan, proses pementasan, peran dalang, serta tantangan dan upaya pelestarian wayang golek di era modern.


Sejarah Wayang Golek

Wayang golek mulai berkembang pada abad ke-17 dan diyakini pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kudus sebagai media dakwah Islam di tanah Sunda. Seni ini awalnya digunakan untuk menyampaikan ajaran agama dengan cara yang lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Wayang golek kemudian berkembang pesat di bawah perlindungan para bangsawan dan raja-raja di tanah Pasundan. Pada masa pemerintahan Raden Aria Wiranatakusumah II (Bupati Bandung 1794–1829), wayang golek mendapat dukungan besar dan menjadi salah satu pertunjukan yang sering digelar di istana dan berbagai upacara adat.

Pada perkembangannya, wayang golek terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu:

1. Wayang Golek Purwa – Berasal dari kisah-kisah epos Mahabharata dan Ramayana, yang mirip dengan wayang kulit di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

2. Wayang Golek Cepak – Mengangkat kisah-kisah Panji dan cerita rakyat khas Sunda.

Kini, wayang golek telah mengalami modernisasi dengan mengadaptasi berbagai kisah baru, termasuk cerita fiksi dan sejarah, untuk menarik minat generasi muda.

Filosofi dan Nilai dalam Wayang Golek

Wayang golek tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga mengandung berbagai nilai filosofis yang mencerminkan kehidupan masyarakat Sunda. Beberapa nilai utama yang terdapat dalam wayang golek meliputi:

1. Keseimbangan Hidup (Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh)

Mengajarkan pentingnya saling mencintai, berbagi ilmu, dan saling menjaga dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Kepemimpinan dan Kearifan

Tokoh-tokoh seperti Arjuna dan Gatotkaca dalam wayang golek menggambarkan kepemimpinan yang bijaksana, penuh tanggung jawab, dan selalu berpihak pada kebenaran.

3. Dakwah dan Moralitas

Wayang golek sering digunakan sebagai media dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam dan mengajarkan nilai-nilai moral kepada masyarakat.

4. Kesabaran dan Keteguhan

Banyak lakon dalam wayang golek yang menggambarkan bagaimana tokoh utama harus melewati berbagai rintangan sebelum mencapai keberhasilan, mengajarkan nilai kesabaran dan perjuangan.

Teknik Pembuatan Wayang Golek

Pembuatan wayang golek membutuhkan keterampilan tangan yang tinggi dan melalui beberapa tahap berikut:

1. Pemilihan Kayu

Kayu yang digunakan biasanya dari kayu Albasia atau pule yang ringan dan mudah diukir.

2. Pemahatan

Proses mengukir kepala, badan, tangan, dan kaki sesuai dengan karakter tokoh yang akan dibuat.

3. Pengecatan dan Pewarnaan

Wayang dicat dengan warna-warna khas untuk menunjukkan karakter, seperti merah untuk tokoh antagonis dan putih untuk tokoh protagonis.

4. Pembuatan Busana

Kostum dibuat dengan menggunakan kain tradisional yang disesuaikan dengan latar cerita dan status tokoh dalam kisahnya.

5. Perakitan

Semua bagian dirangkai dengan menggunakan bambu atau kawat agar dapat digerakkan dengan leluasa oleh dalang.

Proses Pementasan Wayang Golek

Pertunjukan wayang golek memiliki struktur khas yang terdiri dari beberapa bagian:

1. Tatalu (Pembukaan)

Diawali dengan iringan gamelan sebagai tanda dimulainya pertunjukan.

2. Adegan Jejer (Pembukaan Cerita)

Menampilkan tokoh-tokoh utama dalam latar istana atau medan pertempuran.

3. Adegan Konflik

Menceritakan permasalahan utama dalam lakon dan pertarungan antara tokoh baik dan jahat.

4. Adegan Humor

Biasanya dibawakan oleh tokoh punakawan seperti Cepot, Dawala, dan Gareng untuk menghibur penonton.

5. Klimaks dan Penutup

Konflik diselesaikan dengan kemenangan pihak kebaikan dan diakhiri dengan pesan moral dari dalang.

Peran Dalang dalam Wayang Golek

Dalang memiliki peran yang sangat penting dalam pertunjukan wayang golek. Ia tidak hanya menggerakkan wayang, tetapi juga bertindak sebagai narator, aktor, dan pengendali suasana pertunjukan. Dalang harus memiliki keterampilan dalam:

  • Menyuarakan berbagai karakter
  • Menguasai cerita dan improvisasi
  • Berkomunikasi dengan penonton
  • Memimpin orkestra gamelan yang mengiringi pertunjukan

Beberapa dalang terkenal dalam sejarah wayang golek di Indonesia antara lain:

  • Dalang Asep Sunandar Sunarya
  • Dalang Cecep Supriadi
  • Dalang Dadan Sunandar Sunarya

Tantangan dan Upaya Pelestarian Wayang Golek

Wayang golek menghadapi berbagai tantangan dalam era modern, seperti:

1. Kurangnya Minat Generasi Muda

Perkembangan teknologi dan budaya pop membuat wayang golek kurang diminati oleh anak muda.

2. Kompetisi dengan Hiburan Modern

Film, televisi, dan media digital membuat pertunjukan tradisional semakin jarang digelar.

3. Kurangnya Dukungan Pemerintah

Tidak semua daerah memberikan perhatian dan pendanaan untuk pelestarian wayang golek.


Namun, ada berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menjaga keberlangsungan wayang golek, antara lain:

1. Digitalisasi dan Streaming Online

Beberapa dalang mulai mengunggah pertunjukan mereka ke YouTube dan media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

2. Festival dan Kompetisi Wayang

Acara seperti Festival Wayang Nasional dan pertunjukan di luar negeri membantu mengenalkan wayang golek kepada masyarakat global.

3. Kurikulum Pendidikan

Memasukkan wayang golek ke dalam kurikulum sekolah untuk mengajarkan seni budaya kepada siswa sejak dini.