UNGGAH-UNGGUH DAN TEPA SELIRA DALAM TAFSIR PRIMBON

“Laku Halus Kang Nata Rasa, Ngayomi Sesami, Lan Ngemut Katentreman Jagad”

A. Hakikat Unggah-Ungguh dan Tepa Selira

1. Unggah-Ungguh sebagai Pangkal Ketertiban Sosial

a. Unggah-ungguh merupakan tata laku atau tata cara bersikap yang lahir dari kesadaran bahwa hubungan antar manusia menuntut keharmonisan.

b. Dalam budaya Jawa, unggah-ungguh tidak hanya mengatur etiket, tetapi juga merupakan seni menjaga hubungan dengan sesama agar tidak menimbulkan benturan rasa.

c. Primbon memuat aturan unggah-ungguh yang bersifat praktis, seperti cara menyapa, cara duduk, dan cara berbicara, namun juga memberi makna filosofis: bahwa manusia harus tahu tempat, tahu waktu, dan tahu dengan siapa ia berhadapan.

2. Tepa Selira sebagai Rasa yang Menata Diri

a. Tepa selira berarti mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, suatu bentuk empati yang mendalam, bukan sekadar menahan diri.

b. Tepa selira mengajarkan bahwa tindakan terbaik adalah tindakan yang mempertimbangkan dampaknya bagi batin orang lain.

c. Primbon menjelaskan bahwa tepa selira adalah inti dari laku “ngemut rasa”, yaitu kemampuan menimbang sebelum bertindak agar tidak menimbulkan luka sosial.

3. Perpaduan Dua Nilai: Bentuk Lahir dan Batin

a. Unggah-ungguh mengatur tubuh dan tindakan lahir; tepa selira mengatur hati dan batin.

b. Dua nilai ini seperti dua sisi uang: tidak lengkap jika hanya salah satu saja.

c. Dalam primbon, unggah-ungguh tanpa tepa selira disebut “laku kosong”—tindakan yang benar secara bentuk namun hambar secara batin.

B. Akar Historis Unggah-Ungguh dan Tepa Selira

1. Era Komunitas Desa: Etika Kebersamaan

a. Di masa awal, masyarakat Jawa hidup dalam komunitas agraris yang menuntut kerukunan untuk bertahan hidup.

b. Aturan yang kita kenal sebagai unggah-ungguh berawal dari etika gotong royong: bagaimana bersikap saat bekerja, makan bersama, atau bermusyawarah.

c. Tepa selira tumbuh sebagai mekanisme menghindari pertentangan, karena konflik dalam komunitas kecil dapat mengancam keselamatan kolektif.

2. Era Hindu–Buddha: Kelembutan Etis dan Hierarki Sosial

a. Pengaruh Hindu–Buddha membawa ajaran dharma (kebenaran) dan ahimsa (tidak menyakiti) yang memperhalus nilai unggah-ungguh.

b. Sistem kasta dan struktur kerajaan membentuk tata cara formal antara rakyat, pejabat, dan bangsawan.

c. Tepa selira berkembang mengikuti ajaran karuna, yang mengajarkan kasih sayang dalam bertindak, sehingga perilaku sosial memiliki dasar spiritual.

3. Era Islam Kejawen: Etika Akhlak dan Batin

a. Ajaran Islam memperkenalkan nilai ihsan, yaitu berbuat baik dengan kesadaran bahwa Tuhan selalu melihat.

b. Nilai sabar, tawadhu’, dan menahan lisân memperdalam struktur unggah-ungguh dan tepa selira.

c. Primbon Kejawen menggabungkan etika syariah dengan tradisi Jawa sehingga lahirlah laku sosial yang lebih lembut dan religius.

C. Bentuk-Bentuk Unggah-Ungguh dalam Primbon

1. Unggah-Ungguh Basa (Tata Bahasa Halus)

a. Bahasa Jawa mengenal tingkatan: ngoko, madya, krama, krama inggil — masing-masing digunakan untuk lawan bicara berbeda.

b. Pemilihan kata yang tepat mencerminkan penghormatan, bukan sekadar aturan linguistik.

c. Primbon menekankan bahwa bahasa adalah cermin budi: semakin halus bahasanya, semakin teratur batinnya.

2. Unggah-Ungguh Laku (Tata Gerak dan Perilaku)

a. Cara berjalan pelan saat melewati orang tua, cara duduk yang sopan saat berbicara, hingga cara menerima tamu — semuanya memiliki aturan tersurat.

b. Gerak tubuh dianggap sebagai “bahasa kedua” yang berbicara tanpa kata-kata.

c. Primbon memuat petunjuk agar laku badan tidak mengganggu rasa orang lain.

3. Unggah-Ungguh Panggil-Wuwuh (Tata Sapaan)

a. Sapaan seperti “Pak”, “Bu”, “Mbak”, “Mas”, “Romo”, “Kyai” memiliki konteks sosial masing-masing.

b. Menyapa dengan panggilan yang tepat menjaga martabat kedua belah pihak.

c. Primbon mengajarkan bahwa kesalahan sapaan adalah kesalahan rasa.

D. Struktur Tepa Selira dalam Primbon

1. Kemampuan Merasakan Perasaan Orang Lain

a. Tepa selira bukan hanya memahami, tetapi “memprediksi” reaksi batin orang lain.

b. Kemampuan ini berakar dari latihan batin: mendengarkan, mengamati, dan menunda reaksi.

c. Primbon menyebutnya sebagai “kecerdasan rasa”.

2. Kendali Diri sebagai Fondasi Etika

a. Tepa selira menuntut manusia menguasai diri sebelum bertindak.

b. Seseorang tidak boleh memaksakan pendapat, meskipun ia benar, jika itu melukai orang lain.

c. Latihan ini disebut “ngempet”, yaitu membendung nafsu spontan yang berpotensi merusak.

3. Menghindari Laku Dumeh (Sikap Semena-Mena)

a. Aja dumeh adalah nasihat klasik agar tidak berlaku semena-mena karena kedudukan atau kemampuan.

b. Orang yang dumeh dianggap telah kehilangan kepekaan rasa.

c. Primbon menilai bahwa dumeh adalah sumber awal kehancuran sosial.

E. Fungsi Sosial Unggah-Ungguh

1. Dalam Keluarga

a. Cara anak menghormati orang tua, cara berbicara kepada saudara, dan cara menerima tamu keluarga semuanya diatur.

b. Unggah-ungguh membentuk pondasi karakter anak sejak kecil.

c. Primbon menekankan bahwa masa kecil adalah masa pembiasaan unggah-ungguh.

2. Dalam Masyarakat

a. Kehidupan desa Jawa bergantung pada tata krama yang jelas agar aktivitas sosial berlangsung lancar.

b. Ritual seperti slametan, kenduri, dan rapat desa menuntut unggah-ungguh tertentu.

c. Pelanggaran unggah-ungguh dianggap “nglanggar rasa” komunitas.

3. Dalam Lingkungan Keraton

a. Keraton menjadi pusat penghalusan unggah-ungguh: cara berjalan, suara yang digunakan, posisi tubuh, hingga cara membawa pusaka.

b. Setiap laku memiliki makna simbolis yang diatur dalam primbon keraton.

c. Lingkungan keraton mempertahankan unggah-ungguh sebagai wibawa adiluhung budaya Jawa.

F. Fungsi Sosial Tepa Selira

1. Menjaga Stabilitas Emosi Kolektif

a. Tepa selira mencegah konflik kecil berubah menjadi besar.

b. Sikap menahan diri memperkuat rasa sungkan dan hormat antar warga.

c. Tepa selira dianggap perekat sosial yang tak terlihat.

2. Memperhalus Penyelesaian Konflik

a. Penyelesaian konflik Jawa jarang dilakukan melalui konfrontasi terbuka.

b. Tepa selira membuka jalan kompromi, dialog halus, dan musyawarah.

c. Primbon memuat cara memilih waktu dan cara berbicara untuk menyelesaikan masalah secara lembut.

3. Membangun Wibawa dan Nama Baik

a. Orang yang memiliki tepa selira dihormati dan dipercaya.

b. Nama baik (pangastuti) dalam budaya Jawa dianggap pusaka yang lebih berharga daripada harta.

c. Primbon menekankan bahwa nama baik berasal dari budi pekerti yang halus.

G. Rasionalitas Unggah-Ungguh dan Tepa Selira

1. Etika sebagai Pencegah Krisis Sosial

a. Tata krama berfungsi sebagai pagar agar kehidupan tidak kacau.

b. Aturan halus menjaga kenyamanan psikologis individu.

c. Primbon mengajarkan bahwa harmoni bukan hadiah, tetapi hasil latihan etika.

2. Psikologi Jawa: Rasa sebagai Sistem Informasi Batin

a. Rasa membantu mendeteksi emosi, tensi, dan kepekaan dalam interaksi.

b. Tepa selira melatih manusia berpikir sebelum bereaksi.

c. Ini sejalan dengan konsep kecerdasan emosional modern.

3. Harmoni sebagai Tujuan Utama

a. Tujuan unggah-ungguh dan tepa selira adalah menciptakan masyarakat yang rukun.

b. Harmoni dianggap sebagai prasyarat hidup bahagia.

c. Primbon menempatkan kedamaian sosial sebagai manifestasi tertinggi laku manusia.

H. Landasan Literatur

1. Sumber Primer

a. Serat Wulang Reh

b. Primbon Betaljemur Adammakna

c. Serat Centhini

d. Sastra Miruda

2. Sumber Sekunder

a. Koentjaraningrat – Kebudayaan Jawa

b. Simuh – Mistik Islam Kejawen

c. Clifford Geertz – The Religion of Java

d. Woodward – Java, Islam and the Mystic Tradition

——————

I. Kesimpulan

1. Unggah-ungguh adalah seni menata tindakan lahir; tepa selira adalah seni menata batin.

2. Keduanya menjadi inti kehalusan budaya Jawa yang tercatat rapi dalam primbon.

3. Dua nilai ini menjaga harmoni, memperhalus interaksi, dan membangun masyarakat yang penuh wibawa dan kebijaksanaan.