“Lidah iku landhep tanpa waja, nanging bisa ndandani utawa ngrusak jagad rasa”
A. Hakikat Menjaga Lisan dan Perilaku
1. Lisan sebagai Cermin Batin
a. Kata-kata lahir dari getaran hati; bila hati keruh, lisan pun menjadi kasar.
b. Primbon menegaskan bahwa lisan adalah pintu masuk sekaligus pintu keluar watak seseorang.
c. Orang Jawa percaya bahwa kemampuan menjaga lisan berarti kemampuan menjaga diri.
2. Perilaku sebagai Piwulang Hidup
a. Perilaku harian dipandang sebagai bentuk nyata dari kepribadian batin.
b. Primbon memandang kelakuan sebagai “kaca benggala” bagi moral seseorang.
c. Perilaku teratur menandakan kesadaran akan tata hidup yang selaras dengan alam.
3. Hubungan antara Lisan, Perilaku, dan Tanda Hidup
a. Perkataan yang baik membuka jalan rezeki dan kedamaian.
b. Kelakuan buruk diyakini dapat mengundang energi negatif dan konflik.
c. Primbon menyatukan lisan dan perilaku sebagai kompas moral kehidupan manusia.
B. Fondasi Sejarah Etika Lisan dan Perilaku dalam Budaya Jawa
1. Era Hindu–Buddha: Akar Etika Tutur
a. Konsep ahimsa (tidak melukai) diadopsi menjadi dasar etika berbicara.
b. Keteraturan bahasa dalam kakawin melatih manusia berbicara dengan harmoni.
c. Primbon mengadopsi prinsip bahwa tutur adalah bagian dari laku spiritual.
2. Masa Mataram: Lisan yang Halus sebagai Tanda Keturunan Beradab
a. Sistem unggah-ungguh bahasa berkembang kuat pada masa Mataram.
b. Hati-hati dalam berkata menjadi ukuran kecerdasan rasa (tepa selira).
c. Tradisi ini kemudian dimasukkan dalam primbon sebagai pedoman laku budi pekerti.
3. Masa Islam Jawa: Adab dan Akhlak sebagai Penopang Laku Tutur
a. Pengaruh tasawuf memperhalus konsep kesantunan dalam berbicara.
b. Menjaga lisan dianggap bagian dari ibadah.
c. Primbon memadukan etika Islam dan budaya Jawa menjadi pola laku yang khas.
C. Struktur Etika Lisan dalam Primbon
1. Tutur Halus (Tata Krama Wicara)
a. Kata yang dipilih harus mencerminkan rasa hormat terhadap lawan bicara.
b. Kontrol emosi menjadi kewajiban dalam tata wicara.
c. Tutur halus menciptakan harmoni dan menghindarkan konflik.
2. Menahan Kata yang Tidak Perlu
a. Banyak berbicara tanpa manfaat dapat menjadi kasekten negatif.
b. Primbon mengajarkan bahwa diam lebih baik daripada berkata yang menyakitkan.
c. Menahan lisan berarti menjaga diri dari karma sosial.
3. Kejujuran dalam Tutur
a. Kejujuran dianggap bagian dari keikhlasan batin.
b. Kebohongan membawa konsekuensi moral bagi diri dan keluarga.
c. Lisan yang jujur adalah teman perjalanan hidup yang membawa keselamatan.
D. Etika Perilaku dalam Primbon
1. Laku Tertib dan Teratur
a. Berperilaku tertib mencerminkan pikiran yang tertata.
b. Keteraturan ini dipandang sebagai pondasi keberhasilan hidup.
c. Primbon menghubungkan ketertiban perilaku dengan keseimbangan energi pribadi.
2. Tepa Selira dalam Bertindak
a. Perilaku harus mempertimbangkan perasaan dan kepentingan orang lain.
b. Sikap ini mencegah konflik sosial dan membangun kedamaian bersama.
c. Primbon mengajarkan bahwa tindakan harus membawa kemanfaatan, bukan kerusakan.
3. Eling lan Waspada
a. Selalu sadar atas situasi dan konsekuensi tindakan.
b. Kewaspadaan diperlukan agar tidak tergelincir dalam laku buruk.
c. Etika ini memadukan kewaspadaan lahir dan batin.
E. Lisan dan Perilaku dalam Serat Piwulang
1. Serat Wulangreh
a. Mengajarkan pentingnya tutur halus dan perilaku terukur.
b. Lisan yang melukai dipandang sebagai tanda ketidakdewasaan batin.
c. Perilaku harus mencerminkan sifat rendah hati.
2. Serat Wedhatama
a. Menjaga laku, lisan, dan rasa adalah tugas pribadi setiap manusia.
b. Wedhatama menegaskan bahwa kelakuan buruk adalah sumber petaka.
c. Tutur yang halus dianggap sebagai bagian dari kebijaksanaan.
3. Serat Centhini
a. Banyak kisah yang memperlihatkan akibat dari lisan kasar dan tindakan gegabah.
b. Tokoh utama selalu diberi wejangan untuk bertindak halus.
c. Serat ini menempatkan etika lisan sebagai perangkat moral masyarakat Jawa.
F. Dampak Lisan terhadap Kehidupan Menurut Primbon
1. Dampak pada Rezeki
a. Kata baik membuka pintu rizki, sedangkan kata buruk menutupnya.
b. Lisan kasar menurunkan simpati orang lain.
c. Primbon mengajarkan bahwa rezeki mengalir bersama getaran tutur yang baik.
2. Dampak pada Hubungan Sosial
a. Lisan menjadi penentu akrab atau renggangnya hubungan.
b. Kalimat yang halus menciptakan rasa aman dan dihargai.
c. Tutur buruk menimbulkan jarak, konflik, dan kekecewaan.
3. Dampak pada Kesehatan Batin
a. Kata yang baik menumbuhkan ketenangan hati.
b. Berbohong atau memaki menyebabkan kegelisahan batin.
c. Primbon memandang lisan buruk sebagai beban jiwa.
G. Perilaku sebagai Penentu Watak
1. Perilaku dan Kebiasaan Harian
a. Kebiasaan membentuk karakter.
b. Perilaku kecil yang baik mengarah pada watak yang baik pula.
c. Primbon menilai perilaku harian sebagai indikator nasib.
2. Perilaku dan Kepemimpinan
a. Pemimpin Jawa dinilai dari tutur dan tindakannya.
b. Laku kasar dianggap tidak layak untuk memimpin.
c. Primbon menekankan bahwa pemimpin harus membawa ketentraman.
3. Perilaku dan Spiritualitas
a. Tindakan sehari-hari mencerminkan kualitas batin seseorang.
b. Laku yang lembut membuka pintu kepekaan spiritual.
c. Primbon memadukan perilaku sosial dengan laku batin.
H. Landasan Literatur
1. Sumber Primer
a. Primbon Betaljemur Adammakna
b. Serat Wedhatama
c. Serat Wulangreh
d. Serat Centhini
2. Sumber Sekunder
a. Magnis-Suseno – Etika Jawa
b. Koentjaraningrat – Manusia dan Kebudayaan Jawa
c. Geertz – The Religion of Java
——————
I. Kesimpulan
1. Menjaga lisan dan perilaku adalah inti budi pekerti Jawa.
2. Primbon memandang tutur dan tindakan sebagai penentu harmoni hidup.
3. Lisan yang terjaga menciptakan hubungan yang damai dan batin yang tenteram.
4. Perilaku yang benar membawa keberkahan dan keharmonisan sosial.
