Keutuhan dan Kepantasan sebagai Ukuran Martabat Tosan Aji Nusantara
Dua Kata Kunci yang Menentukan Nilai
Dalam dunia tosan aji, terdapat banyak istilah yang terdengar sederhana namun mengandung bobot kebudayaan yang dalam.
Dua di antaranya adalah wutuh dan wangun. Keduanya sering diucapkan dalam satu tarikan napas—wutuh lan wangun—seolah menjadi satu kesatuan makna yang tak terpisahkan.
Namun sesungguhnya, wutuh dan wangun adalah dua konsep berbeda, dengan wilayah pengertian masing-masing.
Keduanya saling melengkapi, tetapi tidak saling menggantikan. Sebilah pusaka bisa wutuh tetapi belum tentu wangun, dan sebaliknya, bisa tampak wangun tetapi sesungguhnya tidak wutuh.
Dalam pendekatan Samadya, wutuh dan wangun dipahami sebagai ukuran etika dan kesadaran, bukan sekadar ukuran visual.
Apa yang Dimaksud dengan Wutuh
1. Pengertian Dasar Wutuh
Secara bahasa Jawa, wutuh berarti utuh, lengkap, tidak kurang, tidak terpotong.
Dalam konteks tosan aji, wutuh adalah kondisi di mana sebuah pusaka masih berada dalam keadaan asli dan lengkap menurut kodratnya, baik secara fisik, bentuk, maupun makna.
Wutuh bukan sekadar “tidak patah”, melainkan tidak kehilangan bagian penting yang menjadi identitasnya.
Orang Jawa mengatakan:
“Wutuh iku ora mung ora pedhot, nanging ora ilang jatiné.”
Wutuh bukan hanya tidak terputus, tetapi tidak kehilangan jati dirinya.
2. Wutuh Secara Fisik

Secara fisik, sebuah pusaka disebut wutuh apabila:
- Bilah tidak patah, retak, atau terpotong.
- Ujung (pucuk) masih asli.
- Pangkal bilah (pesi dan ganja) masih sesuai.
- Tidak ada bagian penting yang hilang atau ditambal sembarangan.
Bilah yang pernah dipotong, dipendekkan, atau disambung ulang sering dianggap ora wutuh, meskipun secara visual masih tampak bagus.
3. Wutuh Secara Bentuk (Dapur)
Wutuh juga menyangkut keutuhan dapur.
Dapur harus:
- Jelas dan tidak berubah.
- Jumlah luk sesuai pakem.
- Tidak dikurangi atau ditambah.
Mengubah dapur, misalnya mengurangi luk atau mengikis bagian tertentu demi selera, dianggap merusak keutuhan.
4. Wutuh Ricikan
Ricikan adalah penanda anatomi bilah.
Sebuah pusaka dianggap wutuh bila:
- Ricikan pokok masih lengkap.
- Tidak ada ricikan penting yang dihilangkan.
- Pahatan tidak rusak parah atau “dihilangkan jejaknya”.
Ricikan yang hilang ibarat anggota tubuh yang lenyap, fungsi mungkin masih ada, tetapi keutuhan sudah terganggu.
5. Wutuh Pamor
Pamor adalah bagian dari tubuh bilah, bukan lapisan luar.
Pusaka dianggap tidak wutuh bila:
- Pamor terpotong karena pengikisan berlebihan.
- Pamor tertutup atau rusak akibat finishing yang salah.
- Pamor asli diganti atau ditutupi.
6. Wutuh Sejarah dan Makna
Dalam pandangan budaya, wutuh juga berarti tidak terputus dari asal-usulnya:
- Tidak dipalsukan riwayatnya.
- Tidak direkayasa ceritanya.
- Tidak diputus hubungannya dengan konteks budaya.
Wutuh adalah kejujuran terhadap perjalanan pusaka.
Apa yang Dimaksud dengan Wangun
1. Pengertian Dasar Wangun
Wangun dalam bahasa Jawa berarti pantas, elok, serasi, enak dipandang dan dirasakan.
Dalam tosan aji, wangun adalah kepantasan bentuk—bukan sekadar indah, tetapi tepat menurut rasa budaya.
Ada ungkapan Jawa yang sangat dikenal:
“Ora wangun iku ora trep.”
Tidak wangun berarti tidak tepat.
Wangun selalu berkaitan dengan rasa, bukan hanya ukuran.
2. Wangun sebagai Kepantasan, Bukan Kemewahan
Wangun tidak identik dengan:
- Hiasan berlebih.
- Pamor yang ramai.
- Ricikan yang dipaksakan.
Sebilah pusaka bisa sangat sederhana, tetapi tetap wangun karena:
- Proporsinya pas.
- Bentuknya selaras.
- Tidak ada bagian yang “menyimpang sendiri”.
3. Wangun Proporsi
Wangun sangat ditentukan oleh proporsi:
- Panjang dan lebar bilah.
- Tinggi luk.
- Ukuran ricikan.
- Hubungan bilah dengan ganja.
Bilah yang terlalu panjang, terlalu gemuk, atau terlalu kurus sering terasa ora wangun, meskipun lengkap.
4. Wangun Garis dan Alur
Alur bilah harus:
- Mengalir,
- Tidak patah,
- Tidak kaku.
Luk yang terputus-putus, sudut yang tajam tidak wajar, atau garis yang “dipaksa” akan merusak wangun.
5. Wangun Ricikan
Ricikan harus:
- Pas ukurannya
- Tepat letaknya
- Tidak saling berebut perhatian.
Ricikan yang terlalu besar akan kasar, yang terlalu kecil akan lemah. Wangun menuntut ketepatan rasa empu.
6. Wangun Pamor
Pamor yang wangun adalah pamor yang:
- Mendukung bentuk.
- Mengikuti alur bilah.
- Tidak menenggelamkan dapur dan ricikan.
Pamor yang terlalu dominan sering membuat bilah tampak “ramai” tetapi kehilangan kepantasan.
Hubungan Wutuh dan Wangun
Wutuh dan wangun adalah dua pilar yang saling melengkapi:
- Wutuh tanpa wangun → lengkap tetapi kaku, berat, dan tidak enak dirasa.
- Wangun tanpa wutuh → indah sesaat, tetapi rapuh dan tidak jujur.
Pusaka yang ideal adalah yang wutuh lan wangun.
“Wutuh iku dhasar, wangun iku paugeran.”
Wutuh adalah dasar, wangun adalah kepantasan.
Wutuh–Wangun dalam Perbedaan Zaman dan Daerah
Ukuran wangun bisa berbeda:
- Zaman kuno mengutamakan kekuatan.
- Zaman keraton mengutamakan kehalusan.
- Zesisir mengutamakan ketegasan.
- Pedalaman mengutamakan ketenangan.
Namun wutuh tetap universal: keutuhan tidak mengenal selera.
Wutuh–Wangun sebagai Etika dan Spiritualitas
Secara batin:
- Wutuh melambangkan keutuhan diri.
- Wangun melambangkan ketepatan laku.
Pusaka yang wutuh lan wangun diyakini lebih mudah nyawiji (menyatu) dengan pemiliknya.
Dalam istilah Sanskerta:
- Pūrṇa = utuh.
- Rūpa = bentuk yang tepat.
- Wutuh–wangun adalah pūrṇa-rūpa dalam bingkai Jawa.
Ukuran Nilai yang Tidak Lekang
Dalam tosan aji, tidak semua yang tua itu wutuh, dan tidak semua yang indah itu wangun.
Wutuh dan wangun mengajarkan cara menilai dengan budi, bukan dengan nafsu.
“Sing wutuh lan wangun iku ora rame ing paningal, nanging jero ing rasa.”
Yang utuh dan pantas tidak ramai di pandangan, tetapi dalam di rasa.
Ensiklopedi Wutuh–Wangun Samadya disusun agar pusaka Nusantara terus dipahami sebagai warisan nilai dan kesadaran, bukan sekadar benda koleksi.
Salam samadya
