Jejak Zaman pada Bilah: Membaca Waktu, Rasa, dan Warisan dalam Tosan Aji Nusantara
Bilah yang Menyimpan Waktu
Dalam dunia tosan aji, sebilah keris atau pusaka bukan sekadar besi yang ditempa, melainkan waktu yang dibekukan. Ia menyimpan jejak tangan empu, napas zamannya, serta watak budaya yang melahirkannya.
Di situlah tangguh mengambil peran, sebagai ilmu membaca usia dan asal-usul, bukan dengan angka pasti, melainkan dengan rasa, perbandingan, dan kesadaran sejarah.
Jika pamor adalah suara batin bilah, dapur adalah kerangka tubuhnya, dan ricikan adalah bahasa rinci sikapnya, maka tangguh adalah ingatan. Ia menautkan pusaka dengan kerajaan, daerah, masa, dan peradaban yang pernah hidup di Nusantara.
Dalam pendekatan Samadya, yang menekankan keseimbangan, kecukupan, dan kesadaran batas, tangguh tidak diperlakukan sebagai klaim mutlak, melainkan taksiran beradab: berani menyimpulkan, namun rendah hati mengakui keterbatasan.
Apa Itu Tangguh?
Tangguh adalah perkiraan masa dan lingkungan budaya pembuatan tosan aji yang disimpulkan dari ciri-ciri lahiriah dan rasa garap: bentuk bilah, proporsi, gaya ricikan, karakter pamor, besi, ganja, hingga “rasa” yang terpancar saat bilah dihayati.
Orang Jawa menyebutnya “kira-kira sing nganggo kawruh lan rasa”—perkiraan yang berpijak pada pengetahuan dan kepekaan.
Karena itu, dua orang yang sama-sama mumpuni bisa berbeda pendapat, tanpa harus saling meniadakan.
Di situlah adab ilmu tangguh diuji.
Tangguh sebagai Ilmu Budaya
Dalam Ensiklopedi Samadya, tangguh dibaca melalui tiga lapis:
- Garap – teknik tempa, bahan, proporsi, dan ketuntasan pengerjaan.
- Rasa – kesan alus, tegas, agung, sederhana, atau “tua” yang khas.
- Jejak Zaman – keterkaitan dengan pusat budaya, kerajaan, atau daerah tertentu.
Tangguh tidak hanya menjawab kapan, tetapi juga dalam suasana budaya apa bilah itu dilahirkan.
Peta Besar Kelompok Tangguh Nusantara
Berikut adalah eksplorasi kelompok-kelompok tangguh yang dikenal dalam tradisi perkerisan dan tosan aji, disusun secara naratif agar mudah dibaca namun tetap sistematis.
I. Tangguh Kerajaan Kuno Jawa Timur (Akar Peradaban)
Kelompok ini sering dipahami sebagai tangguh-tangguh tua, tempat fondasi perkerisan Jawa mulai terbentuk.
Tangguh Medang
- Dibaca sebagai fase awal. Bilah cenderung sederhana, ricikan minim, pamor sering tiban. Rasa yang muncul kuat, padat, dan apa adanya, seolah belum mengenal hiasan berlebih.
Tangguh Kahuripan
- Menunjukkan kesinambungan dari masa awal menuju tatanan yang lebih mapan. Garap mulai rapi, tetapi masih terasa “jujur”. Banyak bilah dengan kesan berat dan berisi.
Tangguh Jenggala
- Sering disebut sebagai tangguh yang “mudah dikenali”, meski tetap memerlukan kehati-hatian. Perpaduan antara kekuatan lama dan keteraturan baru mulai terasa.
Tangguh Daha / Kediri
- Di sini bilah mulai menunjukkan kematangan bentuk. Proporsi lebih seimbang, pamor mulai dipikirkan sebagai unsur keindahan, meski belum seketat pakem-pakem kemudian.
Kelompok ini mengajarkan satu pitutur tua:
“Wit gedhe tuwuh saka oyod sing ora katon.”
Pohon besar tumbuh dari akar yang tak terlihat.

II. Tangguh Jawa Barat dan Kulonan
Wilayah barat Jawa memiliki watak sendiri. Lingkungan alam, jalur budaya, dan sejarah politik membentuk rasa tangguh yang berbeda.
Tangguh Segaluh
- Sering disebut dalam literasi perkerisan sebagai tangguh kulonan. Garapnya cenderung sederhana, tidak “ramai”, tetapi memiliki keteguhan bentuk.
Tangguh Galuh
- Lebih sering dipahami sebagai rumpun budaya daripada satu gaya tunggal. Bilah-bilah yang dikaitkan dengan Galuh kerap memancarkan rasa tua dan tenang.
Tangguh Pajajaran
- Nama besar yang sering muncul. Bilahnya dikenal lugas, tidak berlebihan, sejalan dengan kondisi budaya Jawa Barat yang menekankan fungsi dan ketertiban.
Tangguh Cirebon
- Sering ditempatkan sebagai wilayah peralihan: unsur kulonan bertemu pengaruh pesisir dan Islam. Garapnya khas, kadang berbeda dari pakem Mataraman.
III. Tangguh Jawa Timur Klasik dan Pesisir
Di sinilah perkerisan mencapai kematangan teknik dan estetika.
Tangguh Singasari
- Bilah terasa tegas dan berwibawa. Proporsi mantap, pamor mulai berani tampil.
Tangguh Majapahit
- Sering disebut sebagai puncak kematangan klasik. Garap rapi, pamor beragam, dan rasa agung sangat kuat.
Tangguh Tuban
- Mewakili tradisi pesisir. Terbuka pada pengaruh luar, namun tetap berakar pada Jawa.
Tangguh Blambangan
- Menjaga kekhasan timur Jawa. Bilahnya kerap terasa keras, jujur, dan tidak terlalu dihaluskan.
IV. Tangguh Peralihan Islam Jawa
Peralihan keyakinan dan struktur sosial melahirkan gaya baru.
Tangguh Demak
- Menandai awal Islam Jawa. Bilah mulai ramping, simbol-simbol lama dan baru berdampingan.
Tangguh Pajang dan Pengging
- Transisi yang halus namun penuh dinamika. Garap menunjukkan pencarian bentuk.
Tangguh Madiun
- Madiun dikenal sebagai wilayah dengan tradisi empu dan besalen. Bilahnya sering memiliki rasa tegas namun tertata, tidak seekstrem pesisir, tidak sehalus keraton.
V. Tangguh Mataraman dan Keraton
Inilah era pakem.
Tangguh Mataram
- Bilah menjadi semakin alus dan terukur. Semua seolah “diatur”.
Tangguh Kartasura
- Masa pencarian ulang setelah gejolak politik. Garap kadang eksperimental, kadang konservatif.
Tangguh Surakarta dan Yogyakarta
- Pakem matang. Ricikan rapi, pamor terencana, dan rasa alus sangat menonjol.
VI. Tangguh Daerah dengan Tradisi Besalen Kuat
Selain pusat kerajaan, banyak daerah yang secara tradisional dikenal memiliki empu dan besalen dengan gaya khas.
Tangguh Sedayu
Nama Sedayu sering muncul dalam daftar tangguh. Dikenal sebagai wilayah empu dengan ciri garap tersendiri, kerap dikaitkan dengan kualitas tempa yang baik.
Tangguh Banyumas
Banyumas memiliki tradisi besalen rakyat. Bilahnya sederhana, jujur, dan fungsional—mencerminkan watak masyarakatnya.
Tangguh Madura
Keras, tegas, dan berani. Baik pada keris maupun senjata lain, Madura menampilkan karakter kuat.
Tangguh Bali
Bukan sekadar tangguh, tetapi dunia sendiri. Garapnya khas, pamor berani, dan bilah sering berukuran lebih besar.
Selain itu, dikenal pula penyebutan daerah seperti Sedayu, Jenu, Kudus, Lasem, Tuban, dan pesisir-pesisir lain, yang dalam tradisi lisan perkerisan sering disebut memiliki “rasa tangguh” tersendiri.
Tangguh sebagai Etika Membaca Pusaka
Ilmu tangguh menuntut adab. Ada pitutur Jawa yang selalu relevan:
“Aja dumeh ngerti, sebab ngerti iku durung mesthi paham.”
Jangan merasa paling tahu, sebab tahu belum tentu paham.
Dalam Samadya, tangguh dibaca bukan untuk menyombongkan usia atau harga, melainkan untuk merawat ingatan budaya.
Penutup: Tangguh sebagai Ingatan Kolektif
Sebilah pusaka boleh berpindah tangan, tetapi tangguhnya tetap milik sejarah. Ia adalah jembatan antara empu yang telah tiada dan generasi yang masih belajar memahami.
“Wektu tansah lumaku, nanging pusaka sing eling bakal tansah ngomong.”
Waktu terus berjalan, tetapi pusaka yang diingat akan terus berbicara.
Ensiklopedi Tangguh Samadya disusun agar suara itu tidak hilang, agar tosan aji tetap dibaca sebagai warisan peradaban, bukan sekadar benda tua.
Salam Samadya
