BUDI PEKERTI LUHUR SEBAGAI NILAI UNIVERSAL DALAM PRIMBON

“Budi kang luhur dadi pamedar urip: nggulawenthah rasa, ngrumat laku, ngreksa jagad cilik–gedhe”

A. Hakikat Budi Pekerti Luhur dalam Primbon

1. Budi sebagai Gabungan Pikiran, Rasa, dan Laku

a. Budi mencakup kecerdasan akal, kepekaan rasa, dan ketepatan tingkah laku.

b. Primbon memandang budi sebagai pusat dari keseluruhan karakter manusia.

c. Budi yang benar melahirkan perilaku yang selaras dengan norma sosial dan spiritual.

2. Pekerti sebagai Laku Harian yang Konkret

a. Pekerti adalah manifestasi budi dalam tindakan sehari-hari.

b. Tindakan kecil seperti tutur halus dan sikap hormat mencerminkan pekerti luhur.

c. Primbon mengajarkan bahwa pekerti menentukan keberuntungan dan keselamatan hidup.

3. Luhur sebagai Tingkat Kedisiplinan Batin

a. Luhur berarti bersih dari hawa nafsu dan kepentingan semata.

b. Keluhuran tercapai melalui proses panjang pengendalian diri.

c. Primbon menempatkan keluhuran sebagai puncak perjalanan moral manusia.

B. Jejak Historis Budi Pekerti dalam Kebudayaan Jawa

1. Akar Budi Pekerti pada Masa Hindu–Buddha

a. Konsep dharma menjadi landasan etika perilaku masyarakat Jawa kuno.

b. Kewajiban moral dipandang sebagai bagian dari tugas kosmis dalam kehidupan.

c. Primbon mengadopsi banyak nilai dari ajaran karma dan ahimsa.

2. Masa Keraton Jawa

a. Budi pekerti menjadi syarat bagi bangsawan dan abdi dalem untuk menjaga martabat keraton.

b. Sistem unggah-ungguh memperhalus etika sosial dalam tutur dan perilaku.

c. Primbon digunakan sebagai pedoman tata laku dalam lingkungan keraton dan rakyat.

3. Integrasi Ajaran Islam

a. Budi pekerti berbaur dengan konsep akhlak dan adab.

b. Kesantunan, kejujuran, dan kasih sayang menjadi dasar keluhuran.

c. Primbon menyerap nilai-nilai ini untuk memperkuat struktur moral masyarakat.

C. Struktur Budi Pekerti dalam Primbon

1. Kawicaksanan (Kebijaksanaan)

a. Kebijaksanaan adalah kemampuan menimbang baik-buruk secara jernih.

b. Primbon mendorong manusia untuk berpikir matang sebelum bertindak.

c. Kawicaksanan menjadi fondasi keputusan yang benar.

2. Prasaja (Kesederhanaan)

a. Kesederhanaan mencegah manusia dari kesombongan dan kemewahan berlebihan.

b. Hidup sederhana dianggap membuka pintu ketentraman batin.

c. Primbon menilai prasaja sebagai syarat agar manusia tidak terjebak ambisi duniawi.

3. Tepa Selira (Empati dan Tenggang Rasa)

a. Tepa selira adalah kemampuan membaca perasaan orang lain.

b. Etika ini mencegah konflik dan memperkuat hubungan sosial.

c. Primbon mengajarkan bahwa tepa selira merupakan inti dari budi pekerti luhur.

D. Manifestasi Budi Pekerti dalam Kehidupan

1. Dalam Tutur Kata

a. Percakapan harus mencerminkan welas asih dan kesadaran batin.

b. Kata-kata kasar dianggap merusak wibawa diri.

c. Primbon menilai tutur halus sebagai tanda kedewasaan moral.

2. Dalam Perbuatan

a. Tindakan harus dilakukan dengan hati-hati, tertib, dan penuh pengertian.

b. Perbuatan baik kecil sekalipun menjadi nilai besar secara spiritual.

c. Laku yang benar adalah laku yang tidak merugikan orang lain.

3. Dalam Watak dan Sikap

a. Watak luhur tercermin dalam rasa sabar, ikhlas, dan rendah hati.

b. Sikap angkuh dan egois dianggap lawan dari budi pekerti.

c. Primbon menekankan pentingnya mengolah watak melalui introspeksi.

E. Budi Pekerti sebagai Sistem Moral Universal

1. Bisa Diterapkan oleh Semua Kalangan

a. Budi pekerti tidak terikat status sosial, agama, atau asal-usul.

b. Nilai-nilainya selaras dengan sistem etika global.

c. Primbon menegaskan bahwa keluhuran adalah hak dan tugas setiap manusia.

2. Membangun Keharmonisan Sosial

a. Masyarakat yang berbudi luhur akan hidup damai dan produktif.
b. Nilai ini menjadi perekat antara individu dan komunitas.
c. Primbon memandang budi pekerti sebagai fondasi ketertiban sosial.

3. Relevansi bagi Masyarakat Modern

a. Di era digital dan global, budi pekerti menjadi benteng dari konflik dan friksi sosial.

b. Keluhuran membantu mengatasi budaya kompetitif yang berlebihan.

c. Nilai ini menjadi pedoman untuk berkomunikasi dengan bijaksana.

F. Budi Pekerti dalam Serat dan Naskah Jawa

1. Serat Wedhatama

a. Mengajarkan bahwa manusia yang luhur adalah manusia yang mengolah rasa.

b. Budi pekerti bukan sekadar pengetahuan, tetapi laku hidup.

c. Wedhatama menekankan pentingnya kesadaran batin dan pengendalian diri.

2. Serat Wulangreh

a. Menyampaikan nasihat tentang tata krama dan adab berperilaku.
b. Seseorang harus menjaga kehormatan diri melalui tutur dan tindakan.
c. Nilai-nilai ini membentuk standar moral Jawa.

3. Serat Centhini

a. Memuat aneka kisah yang menggambarkan budi pekerti dalam keseharian.

b. Kesalahan tokoh sering dijadikan pelajaran moral.

c. Serat ini memperlihatkan budi pekerti sebagai panduan hidup yang nyata.

G. Budi Pekerti sebagai Jalan Spiritual

1. Mengasah Kejernihan Hati

a. Keluhuran lahir dari hati yang bersih.

b. Manusia diajak untuk melakukan refleksi dan perenungan.

c. Primbon menempatkan olah hati sebagai inti perjalanan spiritual.

2. Menyuburkan Welas Asih

a. Welas asih adalah sumber dari semua tindakan baik.

b. Kasih yang tulus mempengaruhi seluruh dimensi kehidupan.

c. Primbon memandang welas asih sebagai energi yang menyembuhkan.

3. Menggapai Kematangan Batin

a. Kematangan batin tercapai melalui disiplin dan ketekunan.

b. Orang yang matang batinnya akan bersikap tenang menghadapi ujian hidup.

c. Nilai ini menjadi tujuan akhir dalam laku budi pekerti.

H. Landasan Literatur

1. Sumber Primer

a. Serat Wedhatama

b. Serat Wulangreh

c. Primbon Betaljemur Adammakna

d. Serat Centhini

2. Sumber Sekunder

a. Magnis-Suseno – Etika Jawa

b. Koentjaraningrat – Kebudayaan Jawa

c. Geertz – The Religion of Java

——————

I. Kesimpulan

1. Budi pekerti luhur adalah nilai universal yang menjadi inti moralitas Jawa.

2. Primbon mengajarkan bahwa keluhuran lahir dari keselarasan pikiran, rasa, dan laku.

3. Nilai ini membangun kehidupan sosial yang harmonis dan beretika.

4. Budi pekerti tetap relevan untuk membimbing manusia di tengah perkembangan zaman.