Budaya Tata Krama dan Nasionalisme Bangsa Indonesia di Era Globalisasi

Samadya.id | (Pendahuluan) – Dalam era globalisasi yang terus berkembang pesat, budaya tata krama menjadi bagian penting dalam membentuk karakter bangsa. Tata krama tidak hanya mencerminkan kesopanan individu, tetapi juga mencerminkan identitas dan nilai-nilai luhur suatu bangsa.

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, arus budaya asing semakin mudah masuk ke dalam kehidupan masyarakat, yang sering kali berdampak pada pergeseran nilai-nilai tata krama dan nasionalisme.

Artikel ini akan membahas bagaimana budaya tata krama berperan dalam menjaga identitas bangsa, tantangan yang dihadapi dalam era globalisasi, serta bagaimana membangun nasionalisme yang kuat melalui penerapan tata krama yang baik.

Pengertian Tata Krama dan Nasionalisme

Tata krama adalah seperangkat aturan yang tidak tertulis, tetapi diakui oleh masyarakat sebagai standar perilaku yang baik. Menurut Suryani (2017), tata krama mencerminkan sikap menghormati, menghargai, dan berakhlak mulia dalam interaksi sosial. Seseorang yang memiliki tata krama yang baik akan lebih mudah diterima dalam masyarakat dan menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama.

Sementara itu, nasionalisme adalah semangat mencintai tanah air, menghargai budaya sendiri, dan menjaga identitas bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global. Nasionalisme tidak hanya sebatas rasa cinta terhadap negara, tetapi juga mencakup kebanggaan terhadap budaya, bahasa, dan adat istiadat yang menjadi ciri khas suatu bangsa.

Pentingnya Tata Krama dalam Mempertahankan Identitas Bangsa

Budaya tata krama memiliki peran penting dalam mempertahankan identitas bangsa, terutama di tengah gempuran budaya asing yang masuk melalui berbagai media. Berikut beberapa alasan mengapa tata krama menjadi pilar dalam menjaga karakter bangsa:

1. Mencerminkan Kepribadian Bangsa

Tata krama yang baik mencerminkan kepribadian suatu bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan etika dalam kehidupan sosial. Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki budaya sopan santun yang kuat, seperti kebiasaan mencium tangan orang tua, menyapa dengan bahasa yang halus, serta menghormati orang yang lebih tua.

2. Menjaga Nilai-Nilai Luhur Budaya

Dalam budaya Indonesia, tata krama tidak hanya diterapkan dalam komunikasi, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan seperti berpakaian, berinteraksi, hingga cara makan. Misalnya, dalam budaya Jawa, seseorang harus menggunakan bahasa krama inggil saat berbicara dengan orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan.

3. Meningkatkan Rasa Hormat dan Solidaritas Sosial

Tata krama mengajarkan sikap menghormati dan menghargai orang lain, sehingga dapat meningkatkan solidaritas sosial. Dengan menerapkan tata krama yang baik, hubungan antarindividu dalam masyarakat menjadi lebih harmonis dan terhindar dari konflik yang disebabkan oleh sikap tidak sopan atau kurang menghargai sesama.

Dampak Globalisasi terhadap Budaya Tata Krama

Globalisasi membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam budaya tata krama. Kemudahan akses terhadap informasi dan budaya asing melalui internet, media sosial, serta tayangan hiburan dari luar negeri telah mempengaruhi gaya hidup, cara berkomunikasi, hingga kebiasaan sosial masyarakat Indonesia. Beberapa dampak negatif globalisasi terhadap tata krama adalah:

1. Menurunnya Kesadaran akan Etika dalam Berbahasa

Dalam era digital saat ini, penggunaan bahasa yang santun semakin tergerus oleh bahasa gaul yang berkembang di media sosial. Banyak generasi muda yang cenderung menggunakan bahasa kasar atau tidak sopan dalam berkomunikasi, baik dalam dunia nyata maupun dunia maya.

2. Lunturnya Sikap Sopan Santun dalam Berinteraksi

Gaya hidup modern yang serba cepat membuat sebagian orang mengabaikan tata krama dalam interaksi sosial. Contohnya, dalam transportasi umum, banyak anak muda yang enggan memberikan tempat duduk kepada orang tua atau ibu hamil. Selain itu, budaya menyapa dan bertegur sapa dengan orang sekitar juga semakin berkurang.

3. Hilangnya Rasa Hormat terhadap Orang Tua dan Pemimpin

Pengaruh budaya barat yang menekankan kebebasan individu sering kali menyebabkan berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan pemimpin. Anak-anak cenderung berbicara dengan nada yang kurang sopan kepada orang yang lebih tua, berbeda dengan budaya lama yang sangat menghargai senioritas.

4. Perubahan dalam Gaya Berpakaian

Gaya berpakaian yang dipengaruhi oleh budaya barat sering kali bertentangan dengan norma-norma kesopanan yang dijunjung tinggi dalam budaya Indonesia. Banyak anak muda yang lebih memilih pakaian yang terbuka atau tidak sesuai dengan norma budaya setempat.


Menjaga Nasionalisme melalui Tata Krama

Meskipun globalisasi membawa tantangan, bukan berarti budaya tata krama harus hilang. Justru, di tengah derasnya arus modernisasi, penting untuk tetap menjaga nilai-nilai nasionalisme dengan memperkuat budaya tata krama. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

1. Pendidikan Karakter di Sekolah

Sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai tata krama dan nasionalisme kepada siswa. Melalui pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), siswa dapat memahami pentingnya sikap sopan santun, menghormati sesama, serta menjaga kebanggaan terhadap budaya bangsa.

2. Peran Keluarga dalam Mendidik Anak

Orang tua adalah guru pertama bagi anak-anak dalam belajar tata krama. Mengajarkan anak-anak untuk selalu berkata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” sejak dini merupakan langkah awal dalam membentuk karakter yang baik. Selain itu, membiasakan anak untuk mencium tangan orang tua dan menggunakan bahasa yang sopan juga sangat penting.

3. Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Bahasa adalah salah satu identitas bangsa. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk tetap menjunjung tinggi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam pergaulan sehari-hari, terutama di dunia maya, hendaknya tetap menggunakan bahasa yang sopan dan tidak kasar.

4. Melestarikan Budaya dan Adat Istiadat

Menjaga budaya lokal, seperti tari tradisional, musik daerah, serta kuliner khas Indonesia, dapat menjadi bentuk nasionalisme yang nyata. Mengajarkan anak-anak tentang kearifan lokal dan kebiasaan budaya setempat akan membantu mereka memahami pentingnya menjaga warisan budaya bangsa.

5. Menjadi Contoh dalam Bersikap

Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjadi contoh yang baik dalam menerapkan tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bersikap sopan, menghormati orang lain, serta menjaga adab dalam berbagai situasi, seseorang dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.


Kesimpulan

Tata krama merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya bangsa Indonesia yang harus tetap dijaga, meskipun di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. Tata krama tidak hanya mencerminkan kesopanan individu, tetapi juga memperkuat rasa nasionalisme dan kebanggaan terhadap budaya sendiri.

Meskipun globalisasi membawa tantangan dalam mempertahankan tata krama, upaya untuk menjaga nilai-nilai kesopanan dapat dilakukan melalui pendidikan, peran keluarga, serta kesadaran individu dalam menerapkan etika dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tetap menjunjung tinggi tata krama dan nilai-nilai budaya Indonesia, kita dapat menghadapi era globalisasi tanpa kehilangan identitas sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat.