EMPU DAN PANDE: DUA NAPAS PENEMPA PUSAKA, DARI API BESALEN HINGGA MARTABAT BUDAYA JAWA

Wesi ditempa, jiwa ditata—pusaka lahir bukan hanya dari panas, tetapi dari laku

Di khazanah tosan aji (pusaka-bilah), nama empu dan pande sering disebut seiring, namun keduanya tidak selalu bermakna sama.

Di ruang besalen (tempat tempa), keduanya adalah tangan kebudayaan: memadukan teknik, rasa, dan tata nilai agar sebilah keris, tombak, pedang, badik, atau bilah lain lahir sebagai wutuh—bukan hanya “tajam”, tetapi “bertuah”, bukan hanya “indah”, tetapi “bermakna”.

Dalam banyak tradisi Jawa, pande lazim dipahami sebagai pandai besi / perajin logam—pengolah material, penguasaan bara, palu, lipatan, dan bentuk.

Sementara empu kerap diposisikan sebagai pande yang paripurna: bukan sekadar ahli teknis, melainkan juga menguasai kawruh, tata, dan (dalam tradisi tertentu) laku batin yang menyertai proses penciptaan pusaka.

Dalam kajian umum tentang keris, empu dipahami sebagai metalworker khusus pembuat keris—dan dalam keyakinan Jawa, empu idealnya memiliki kemampuan teknis sekaligus spiritual, karena keris dipandang memiliki dimensi fisik dan “hadir” secara batin.

Empu: Gelar Keahlian yang Menjulang

Kata empu sering diasosiasikan dengan “yang memiliki” atau “yang menguasai”: penguasaan ilmu tempa, estetika garap, serta etika pembuatan pusaka.

Dalam bahasa rasa Jawa, empu bukan hanya pembuat, tapi pangripta—perancang dan “pengada” bentuk.

Ada ungkapan yang sering bergaung di kalangan penikmat pusaka:

“Sapa temen bakal tinemu.”

Siapa yang bersungguh-sungguh akan menemukan (hakikatnya).

Bilah pusaka adalah hasil “temu” antara ketekunan teknis dan ketekunan batin. Di sinilah empu menjadi simbol kedisiplinan: ia membaca material, menakar panas, menimbang bentuk, sekaligus menjaga ketertiban batin agar karya tidak “pecah” sebelum lahir.

Pande: “Tukang” yang Sesungguhnya Bukan Sekadar Tukang

Dalam pemahaman tradisional, pande adalah tulang punggung produksi logam—mencipta alat, senjata, perkakas, sampai pusaka.

Namun menyebut pande sebagai “tukang” secara sempit justru merendahkan martabat pengetahuan yang ia bawa: metalurgi tradisional, pemilihan bahan (wesi), penguasaan teknik lipatan, pembentukan ricikan dasar, dan pematangan bilah.

Di Bali, misalnya, tradisi pande bahkan dikenal sebagai garis keturunan yang menjaga warisan tempa. (Gambaran posisi pande dalam tradisi keris—termasuk teknik lapisan dan penggunaan bahan nikel/meteorik—sering dijelaskan dalam uraian umum tentang proses tempa keris).

Penelusuran Naskah: Nama-Nama Empu dalam Literatur (Bukan Sekadar “Daftar”, tetapi “Jejak Tradisi”)
Anda meminta “penelusuran data sangat mendalam dan luas” dan “nama-nama mpu yang ada dalam data-data tersebut”.

Untuk bagian yang benar-benar berbasis data naskah, salah satu rujukan penting adalah karya alih bahasa Serat Cariyos Gancaring Empu (KBG 96) terbitan Perpusnas Press (dipublikasikan di ResearchGate), yang menjelaskan bahwa naskah tersebut berisi sejarah dan silsilah para empu keris di Tanah Jawa dari era Medhang hingga Mataram, serta menyebut keberadaan naskah-naskah lain yang satu korpus/topik (Sonobudoyo, UI, Sana Pustaka Surakarta, dll.).

Nama-nama Empu yang Muncul dalam “Serat Cariyos Gancaring Empu (KBG 96)”

Berikut nama-nama empu/tokoh empu yang tertulis/termuat pada bagian-bagian teks yang terbaca pada sumber tersebut (disajikan sebagai “jejak literer”—karena naskah tradisi sering memadukan sejarah, silsilah, dan hikayat):

  1. Ki Empu Janggita / Empu Janggita
  2. Empu Mayang
  3. Mundhingbrangta (disebut sebagai empu pendeta unggul)
  4. Empu Bratadiluwih
  5. Empu Gandawisesa
  6. Kyai Empu Kandhangadi
  7. Empu Sarpadewa
  8. Empu Windunata
  9. Empu Windudagda
  10. Windusarpa
  11. Empu Andayasangkala
  12. Empu Kajatsari
  13. Empu Bramakendhi
  14. Empu Anjani
  15. Sang Marcukundha (berada di tanah Pajajaran dalam narasi naskah)
  16. Empu Soka
  17. Empu Manca
  18. Empu Sanggabumi (disebut berkelana dan bermukim di Minangkabu dalam narasi)
  19. Ki Kuwung
  20. Kyai Empu Angga
  21. Empu Kenang (juga disebut ada empu wanita dalam narasi)
  22. Kyai Empu Wanabaya → dikenal kemudian sebagai Empu Kasa di Mandura (dalam narasi perpindahan/penamaan)
  23. Empu Kekep
  24. Surawasesa
  25. Ki Empu Jangga
  26. Ki Empu Mendhung
  27. Empu Cangkring
  28. Empu Tilam
  29. Ki Lanangjaha (disebut empu terkenal di Kudus)
  30. Empu Malaya
  31. Empu Lunglungan
  32. Ki Empu Sedhah (disebut berada di Majapahit)
  33. Ki Jaka Supa

Catatan penting (agar ilmiah dan adil): daftar di atas adalah nama yang terbaca dari rujukan naskah/alih bahasa tersebut, yang memang mengandung corak silsilah-hikayat.

Dalam tradisi Nusantara, “data nama” sering hadir sebagai memori budaya—kadang bersifat genealogi, kadang simbolik—dan tidak selalu bisa diperlakukan seperti arsip modern.

Naskah/Literatur yang Disebut sebagai Korpus Sejarah Empu

Masih dari pengantar kajian di sumber yang sama, disebut pula beberapa naskah lain yang berkaitan dengan sejarah empu (sebagai jalur penelusuran literatur yang “serumpun”), antara lain:

Sajarah Para Empu kaliyan Dhapuring Dhuwung

Sejarah Keris 

Serat Empu (Museum Sonobudoyo), memuat silsilah & sejarah para empu

Sajarah Para Empu (Sana Pustaka Keraton Surakarta)

Ini penting, karena “nama-nama empu” dalam tradisi Jawa sering bersumber dari jejaring naskah, bukan satu teks tunggal.

Empu Legendaris yang Paling Sering Dirujuk Publik (Jejak Populer dan Hikayat)

Selain jalur filologis, publik luas mengenal empu melalui kisah-kisah besar. Yang paling terkenal adalah Mpu Gandring, yang muncul dalam tradisi babad/cerita tentang Ken Arok–Singhasari (sering dirujuk dari Pararaton dalam pembahasan populer).

Ada pula tradisi kisah Empu Supa / Supo Mandrangi yang banyak beredar di literasi populer-modern dan penuturan lokal (petilasan, cerita wilayah, dan artikel budaya), dengan penyebutan karya-karya pusaka tertentu.

Dalam bahasa Jawa, ada ungkapan “titis, tatas, tutus”: titis (tepat/kena), tatas (tuntas), tutus (sampai ke inti).

Begitulah kerja empu-pande: bukan sekadar jadi, tetapi jadi dengan benar.

Penutup Rasa

Empu dan pande adalah dua wajah dari kebijaksanaan tempa: yang satu menegakkan martabat “ilmu dan laku”, yang lain menjaga kesinambungan “keterampilan dan tradisi”.

Dan bila pusaka adalah cermin, maka empu-pande adalah tangan yang membersihkannya: agar kita dapat melihat, bukan hanya bilahnya—melainkan nilai hidup yang dikandungnya.

 

Salam Samadya