ENSIKLOPEDI PAMOR SAMADYA

Bahasa Besi Nusantara: Antara Garap Empu, Rasa Budaya, dan Makna Kehidupan

Pamor adalah bahasa

Namun bukan bahasa yang ditulis dengan aksara, melainkan bahasa yang ditempa, lahir dari perjumpaan api, besi, dan laku manusia.

Dalam khazanah tosan aji Nusantara, khususnya keris Jawa, pamor bukan sekadar corak hias pada bilah, melainkan penanda nilai, pembawa makna, serta jejak pengetahuan metalurgi tradisional yang berpadu dengan filsafat hidup.

Ensiklopedi Pamor Samadya disusun sebagai upaya pendokumentasian, pemaknaan, dan pelurusan pemahaman tentang pamor, baik dari sisi eksoteri (bentuk, teknik, visual) maupun isoteri (makna, filosofi, simbol batin).

Ensiklopedi ini tidak berdiri pada satu sudut pandang mistik semata, juga tidak membatasi diri pada kajian teknis belaka, melainkan berusaha menyatukan rasa, nalar, dan tradisi.

Kata Samadya dipilih sebagai dasar penyusunan ensiklopedi ini karena mengandung makna keseimbangan, kecukupan, dan kesadaran akan batas, sebuah sikap penting dalam membaca pusaka agar tidak terjebak pada pengkultusan, tetapi tetap menjaga penghormatan.

Pengertian Pamor

Dalam tradisi perkerisan Jawa, pamor adalah motif atau pola yang muncul pada bilah keris akibat perpaduan beberapa jenis logam, umumnya besi dan bahan kaya nikel, yang ditempa berlapis melalui proses panjang.

Pamor bukan ukiran, bukan tempelan, dan bukan pewarnaan buatan.

Secara etimologis, istilah pamor sering dikaitkan dengan makna “campuran” atau “percampuran”, yang menegaskan bahwa pamor adalah hasil rekayasa material sekaligus rekayasa rasa.

Pamor dalam Perspektif Samadya

Dalam kerangka Samadya, pamor dipahami melalui tiga lapisan utama:

  • Pamor sebagai Garap (Teknis–Material)

Menyangkut bahan, arah lapisan, teknik tempa, jenis pamor (mlumah/miring), serta hasil visual yang tampak pada bilah.

  • Pamor sebagai Rasa (Estetika–Budaya)

Berkaitan dengan keindahan, keseimbangan visual, keteraturan atau keramaian motif, serta kesesuaian pamor dengan dapur dan tangguh keris.

  • Pamor sebagai Makna (Filosofis–Simbolik)

Menyangkut tafsir nilai, perlambang kehidupan, doa empu, serta relasi pamor dengan laku hidup pemilik pusaka.

Ensiklopedi ini menempatkan ketiganya secara setara, tanpa mengunggulkan satu sisi dan meniadakan yang lain.

Klasifikasi Pamor dalam Ensiklopedi Samadya

Untuk memudahkan pembacaan dan studi, pamor dalam Ensiklopedi Samadya diklasifikasikan ke dalam beberapa rumpun besar:

1. Pamor Tiban

Pamor yang muncul tanpa rekayasa bentuk tertentu dari empu. Dipahami sebagai hasil kehendak alam dan proses tempa yang “jadi sendiri”.

Contoh:

  1. Beras Wutah
  2. Udan Mas Tiban
  3. Tiban Pecah Sewu

Makna Samadya: pasrah, menerima, dan menyelaraskan diri dengan ketentuan hidup.

2. Pamor Rekan

Pamor yang dirancang secara sadar oleh empu dengan niat, doa, dan teknik tertentu.

Contoh:

  1. Junjung Derajat
  2. Blarak Sineret
  3. Mrutu Sewu
  4. Sekar Kopi

Makna Samadya: ikhtiar, kesungguhan, dan tanggung jawab atas pilihan hidup.

3. Pamor Mlumah dan Pamor Miring

Klasifikasi berdasarkan arah lapisan pamor terhadap permukaan bilah.

  1. Mlumah: lapisan sejajar bilah, cenderung halus dan tenang
  2. Miring: lapisan tegak lurus bilah, cenderung tegas dan dinamis

Makna Samadya: dua watak hidup—tenang dan tegas—yang sama-sama diperlukan.

4. Pamor Alam dan Kehidupan

Pamor yang meniru atau melambangkan fenomena alam, tumbuhan, hewan, dan kehidupan sehari-hari.

Contoh:

  1. Blarak Sineret (daun kelapa)
  2. Ron Genduru (daun pakis)
  3. Ngulit Semangka

Makna Samadya: manusia belajar hidup dari alam.

5. Pamor Status dan Laku Sosial

Pamor yang secara tradisi dikaitkan dengan kepemimpinan, wibawa, rezeki, dan keterhubungan sosial.

Contoh:

  1. Junjung Derajat
  2. Pedaringan Kebak
  3. Rejeki Tibo

Makna Samadya: derajat bukan tujuan akhir, melainkan amanah.

Pamor, Laku, dan Etika

Ensiklopedi Pamor Samadya menegaskan satu prinsip penting:

Pamor tidak bekerja sendiri.

Dalam tradisi Jawa, pamor selalu dihubungkan dengan laku, cara hidup, etika, dan tanggung jawab pemilik pusaka.

Pamor yang dianggap “bertuah” pun dipercaya akan mati rasa bila pemiliknya bertindak serakah, sewenang-wenang, atau melanggar tata nilai.

Pepatah Jawa menyebutkan:

“Wong becik ketitik, ala ketara.”

(Perilaku baik akan tampak, perilaku buruk akan terbuka.)

Dalam konteks ini, pamor berfungsi sebagai pengingat, bukan jaminan.

Pamor dalam Sastra dan Serat Nusantara

Istilah pamor, nama-nama pamor, serta konsep “njunjung drajat”, “rejeki”, “wahyu”, dan “laku” banyak ditemukan dalam serat-serat Jawa, di antaranya:

  1. Serat Centhini
  2. Serat Wedhatama
  3. Serat Wulangreh

Karya sastra Jawa modern yang mengangkat tema martabat dan laku hidup

Ensiklopedi Samadya mencatat keterkaitan ini sebagai bukti bahwa pamor bukan entitas terpisah, melainkan bagian dari ekosistem budaya dan literasi Jawa.

Pamor sebagai Cermin Kehidupan

Pamor bukan sekadar indah atau langka.

  • Ia adalah cermin, memantulkan siapa kita, bagaimana kita menata hidup, dan sejauh mana kita memahami batas antara ambisi dan kebijaksanaan.

Ensiklopedi Pamor Samadya tidak bertujuan mengagungkan pusaka secara berlebihan, melainkan merawat pengetahuan, meluruskan pemahaman, dan menjaga warisan agar tetap hidup sebagai sumber nilai, bukan sekadar objek koleksi.

“Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”

Bekerja tanpa pamrih, hidup dengan manfaat.

Salam Samadya