WUKU WUKIR DALAM KEHIDUPAN DAN MITOLOGI BALI

Makna, Karakter, dan Pengaruhnya dalam Penanggalan Jawa

Pengertian Wuku Wukir

Wuku Wukir merupakan salah satu dari 30 wuku dalam sistem penanggalan Jawa. Setiap wuku berlangsung selama 7 hari, sehingga satu siklus wuku berjumlah 210 hari.

Wuku Wukir menempati urutan ke-14 setelah Wuku Langkir dan sebelum Wuku Kurantil.

Dalam tradisi Jawa dan Bali, wuku tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga diyakini memengaruhi watak, rezeki, dan peristiwa kehidupan seseorang yang lahir pada wuku tersebut.

Asal-usul dan Makna Wukir

Kata wukir dalam bahasa Jawa berarti gunung atau bukit. Gunung melambangkan keteguhan, kekuatan, dan kestabilan.

Oleh karena itu, Wuku Wukir sering dikaitkan dengan karakter yang kokoh, teguh pendirian, serta memiliki daya tahan tinggi dalam menghadapi cobaan hidup.

Dewa dan Tokoh Wuku Wukir

Dalam kepercayaan tradisional:

Dewa Batara Langsur dipercaya sebagai penguasa Wuku Wukir.

Batara Langsur melambangkan kewibawaan, ketenangan, dan kekuatan batin.

Simbol ini memperkuat makna Wuku Wukir sebagai wuku yang sarat dengan energi keteguhan dan kepemimpinan.

Karakter Orang yang Lahir pada Wuku Wukir

Orang yang lahir pada Wuku Wukir umumnya dipercaya memiliki sifat-sifat berikut:

  1. Teguh dan bertanggung jawab
  2. Mereka dikenal tidak mudah goyah dan mampu memegang amanah dengan baik.
  3. Berjiwa pemimpin.
  4. Memiliki wibawa alami sehingga sering dipercaya memimpin atau menjadi panutan.
  5. Pekerja keras dan ulet.
  6. Tidak mudah menyerah meski menghadapi kesulitan yang berat.
  7. Pendiam namun berpikir dalam.
  8. Lebih suka bertindak daripada banyak bicara, tetapi memiliki pemikiran yang matang.

Namun demikian, sisi negatif yang mungkin muncul adalah keras kepala dan sulit menerima pendapat orang lain jika merasa sudah benar.

Rezeki dan Kehidupan

Dalam primbon Jawa, Wuku Wukir dikaitkan dengan:

  1. Rezeki yang stabil, meskipun tidak selalu datang secara cepat.
  2. Keberhasilan biasanya diraih melalui proses panjang dan kerja keras, bukan keberuntungan sesaat.
  3. Cocok menekuni bidang yang membutuhkan konsistensi seperti pertanian, konstruksi, kepemimpinan, atau usaha jangka panjang.

Wuku Wukir dalam Kehidupan Tradisional

Dalam masyarakat Jawa, Wuku Wukir sering dijadikan pertimbangan untuk:

  1. Menentukan hari baik untuk memulai pekerjaan berat.
  2. Melakukan aktivitas yang memerlukan ketahanan fisik dan mental.
  3. Menilai kecocokan watak dalam perjodohan atau kerja sama.

Penutup

Wuku Wukir mencerminkan simbol kekuatan dan keteguhan seperti gunung yang menjulang.

Mereka yang berada di bawah naungan wuku ini dipercaya memiliki karakter kuat, tahan uji, dan mampu menjadi sandaran bagi orang lain.

Meski tantangan hidup kerap datang, dengan kesabaran dan ketekunan, Wuku Wukir diyakini membawa kestabilan dan keberhasilan jangka panjang.