“Sak Enem Titah, Sak Enem Laku: Mencari Selaras antara Raga, Rasa, dan Jagad”
A. Pengantar: Angka 6 dalam Rasa dan Pikiran Jawa
1. Posisi Angka 6 dalam Deret Simbolik Jawa
a. Setelah siji (asal), loro (pasangan), telu (kelengkapan), papat (pondasi arah), dan lima (pancer), angka enem (6) dalam pandangan Jawa sering dimaknai sebagai fase pergerakan lan panggul tanggung jawab. Ia menggambarkan hidup yang mulai berputar lebih cepat: kewajiban bertambah, peran sosial melebar, dan ujian batin semakin halus.
b. Dalam primbon, angka 6 kerap dihubungkan dengan dinamika keseharian: kerja, rezeki, relasi, dan laku spiritual yang harus berjalan seimbang. Enem bukan hanya hitungan, tetapi cermin bahwa manusia mulai memasuki fase “urip kang rame” – hidup yang padat urusan dan penuh pilihan.
2. Nuansa Sastra dan Budaya di Balik Enem
a. Dalam sastra Jawa, pola enam tampak dalam penggambaran enam sisi hidup: keluarga, kerja, laku batin, pergaulan, alam, dan negara. Tokoh-tokoh dalam cerita sering digambarkan terjepit antara beberapa tuntutan yang saling tarik-menarik, seolah hidup berputar dalam roda enam jari.
b. Dalam budaya, angka 6 bisa terbaca dalam pola hari-hari kerja (saben dina), kewajiban rumah, ibadah, hubungan sosial, kebutuhan raga, dan kebutuhan jiwa. Enem menggambarkan bahwa hidup bukan hanya lurus, tetapi berputar dan berulang; di situ manusia diuji apakah ia tetap eling lan waspada atau justru lali lan keblinger.
B. Filsafat Kejawen: Enem sebagai Putaran dan Ujian Kematangan
1. Hidup sebagai Roda Enem Ruang
a. Orang Jawa sering membayangkan hidup sebagai roda, di mana setiap “ruang” roda adalah satu bidang perhatian. Angka 6 melambangkan enam ruang penting yang harus dijaga bersama:
- Raga (kesehatan dan kerja).
- Rasa (perasaan dan empati).
- Pikiran (ilmu dan pengetahuan).
- Keluarga (rumah dan keturunan).
- Masyarakat (tetangga, kolega, dan warga).
- Gusti lan alam (Tuhan dan lingkungan).
b. Ketika satu ruang kosong atau rusak, roda berputar tidak seimbang. Filsafat Kejawen mengajarkan bahwa angka 6 adalah peringatan halus: jangan hanya mengurusi satu sisi hidup dan melupakan lima lainnya.
2. Enem minangka Tahap Remen lan Rawan
a. Enem juga sering dikaitkan dengan fase “remen” – masa ketika manusia senang bekerja, senang bergaul, senang mengejar kenyamanan. Di sini ada potensi kemajuan, tetapi juga potensi kelalaian.
b. Fase enam ini menjadikan manusia rentan lupa asal (siji), lupa pasangan dan harmoni (loro), lupa kelengkapan batin (telu), lupa batas-batas moral (papat), dan lupa pusat kesadaran (lima). Karena itu, angka 6 dalam primbon bisa menjadi simbol kewaspadaan: semakin banyak yang dikelola, semakin besar amanah yang harus dijaga.
C. Enem dalam Primbon: Neptu, Watak, dan Rezeki
1. Neptu dan Kesan Umum Angka 6
a. Dalam beberapa tafsir primbon, nilai 6 sering dihubungkan dengan energi kerja, kemandirian dalam urusan duniawi, dan kemampuan mengelola banyak hal sekaligus. Enem membawa kesan aktif, dinamis, dan tidak betah menganggur.
b. Angka 6 dipandang baik untuk:
- Memulai usaha yang memerlukan tenaga dan jaringan luas.
- Mengembangkan profesi yang berhubungan dengan layanan atau perdagangan.
- Menggambarkan orang yang “kemeren” – rajin mencari nafkah dan kesempatan.
2. Watak Enem: Kerja Keras dan Potensi Kelelahan Batin
a. Sifat positif angka 6 dalam primbon:
- Rajin dan tidak suka berpangku tangan.
- Cerdas mengatur waktu dan pekerjaan.
- Pandai memanfaatkan peluang, terutama dalam soal rezeki.
- Mampu memikul beban keluarga dan tanggung jawab sosial.
b. Sifat negatif yang perlu diwaspadai:
- Mudah larut dalam kesibukan hingga melupakan laku batin.
- Cenderung mengukur hidup dari capaian lahir, bukan kedalaman rasa.
- Dapat jatuh pada sikap ambisius, ingin selalu lebih dari orang lain.
c. Primbon memberi pitutur: energi enem harus diseimbangkan dengan narima, agar kerja keras tidak berubah menjadi kerakusan dan kelelahan jiwa.
3. Enem dan Putaran Rezeki
a. Angka 6 sering dilihat sebagai lambang putaran rezeki: datang dan pergi, naik dan turun. Primbon mengingatkan bahwa rezeki bukan hanya soal uang, tetapi juga kesehatan, waktu, dan ketenangan.
b. Orang yang berada dalam “energi enem” diharapkan:
- Pandai berbagi dan sedekah agar rezeki tidak macet.
- Menjaga kejujuran dalam usaha agar tidak jatuh pada hutang karma.
D. Angka 6 dalam Sastra Jawa: Enam Jalan dan Enam Ujian
1. Enam Jalan Pilihan Tokoh dalam Cerita
a. Dalam berbagai lakon, tokoh utama sering dihadapkan pada banyak pilihan, yang jika diringkas menggambarkan enam jalan:
- Jalan darma (kebenaran).
- Jalan harta.
- Jalan kekuasaan.
- Jalan cinta.
- Jalan keluarga.
- Jalan tapa brata (laku batin).
b. Enam jalan ini melambangkan kompleksitas hidup. Sastra Jawa mengajarkan bahwa tokoh bijak bukan yang memilih satu dan membuang lima lainnya, tapi yang mampu menyusun prioritas dengan tetap menjaga nurani.
2. Enam Wajah Manusia: Lahir Halus lan Batin Rumit
a. Dalam pitutur dan tembang, sering tergambar manusia yang punya “banyak wajah”: di rumah, di tempat kerja, di hadapan atasan, di hadapan bawahan, di depan sahabat, dan di depan Gusti. Enam wajah ini bukan untuk memanipulasi, tetapi menggambarkan kompleksitas peran.
b. Sastra Jawa menuntut kejujuran batin: meski peran berbeda, inti nilai seharusnya tetap sama – andhap asor, jujur, lan eling. Di sinilah angka 6 menjadi simbol tugas berat: bagaimana menjaga satu hati dalam enam peran yang berbeda.
E. Enem dalam Budi Pekerti dan Tata Sosial Jawa
1. Enam Laku Utama dalam Pergaulan
a. Jika dirumuskan, kita dapat melihat enam laku sosial yang mencerminkan makna enem:
- Ngajeni – menghormati orang lain.
- Ngemong – menjaga dan membimbing yang lemah.
- Nyengkuyung – membantu ketika ada pekerjaan bersama.
- Ngemut – menjaga rahasia dan aib orang lain.
- Ngudhari – membantu menyelesaikan masalah.
- Nglurug tanpa bala – hadir membawa damai, bukan mencari keributan.
b. Enam laku ini menggambarkan bahwa hidup sosial wong Jawa menuntut keluwesan dan kesiapan berdiri di banyak posisi, namun tetap menjaga inti budi pekerti.
2. Enam Sumbu Kehidupan Rumah Tangga
a. Dalam rumah tangga, “energi enem” bisa terbaca dalam enam sumbu:
- Saling percaya.
- Saling menghormati.
- Saling mendukung.
- Saling mengingatkan.
- Saling menguatkan saat susah.
- Saling mengajak dalam laku ibadah dan kebajikan.
b. Jika salah satu sumbu patah, rumah tangga akan pincang. Nilai enem mengingatkan bahwa keluarga bukan hanya dua orang, tetapi jaringan nilai dan hubungan yang jauh lebih kompleks.
F. Dimensi Spiritual: Enem sebagai Putaran Laku Kang Ora Kendhat
1. Enam Arah Laku Batin
a. Orang Jawa yang menjalani laku spiritual sering diingatkan untuk menjaga enam arah batin:
- Arah pandang kepada Gusti (iman).
- Arah pandang kepada diri (muhasabah/instrospeksi).
- Arah pandang kepada sesama (silaturahmi).
- Arah pandang kepada alam (kelestarian).
- Arah pandang kepada waktu (kesadaran bahwa hidup terbatas).
- Arah pandang kepada mati (eling pati).
b. Enam arah ini menjadikan hidup sebagai putaran eling: setiap kesibukan dunia seharusnya membawa kembali kepada kesadaran bahwa manusia hanyalah pejalan.
2. Enem minangka Pengingat untuk Njaga Irama
a. Enem dalam spiritualitas Jawa mengajarkan bahwa laku tidak boleh meledak sesaat lalu padam. Seperti gending, irama harus dijaga: ada bagian cepat, pelan, tinggi, dan rendah, namun semua menyatu dalam harmoni.
b. Manusia diajak untuk menemukan ritme enem: bekerja tanpa melupakan doa, bergaul tanpa melupakan perenungan, bergerak tanpa melupakan hening. Di sinilah angka 6 memancarkan makna terdalamnya: dinamika yang disinari kesadaran.
G. Kesimpulan: Enem sebagai Cermin Rame Lan Rasa
1. Merangkum Makna Angka 6 dalam Primbon, Sastra, dan Budaya
a. Angka enem dalam sastra dan budaya Jawa melambangkan fase hidup yang ramai, penuh peran, dan sarat tanggung jawab. Ia hadir sebagai simbol kerja, pergaulan, rumah tangga, rezeki, dan laku batin yang berputar tanpa henti.
b. Primbon memaknai angka 6 sebagai ajakan untuk menata irama hidup: agar kesibukan tidak menghapus keheningan, agar pencarian duniawi tidak memutus hubungan dengan Gusti.
2. Pelajaran bagi Laku Wong Jawa Masa Kini
a. Di zaman yang serba cepat dan padat tuntutan, makna angka 6 mengingatkan bahwa ramai ora kudu lali, sibuk ora kudu sembrana. Kita boleh berlari, tapi tetap harus tahu ke mana arah dan di mana pusat makna.
b. Dengan memegang nilai enem – kerja keras yang disertai kesadaran, banyak peran yang tetap dijiwai kejujuran – manusia Jawa masa kini dapat menjadikan angka 6 bukan sekadar hitungan, tetapi putaran laku sing migunani, bagi diri, keluarga, masyarakat, dan jagad sakabehe.
