“Tiga Jejak Langkah: Cipta, Rasa, Karsa dalam Laku Urip Wong Jawa”
A. Pengantar: Angka 3 dalam Horizon Primbon Jawa
1. Posisi Angka 3 dalam Alam Pikir Jawa
a. Dalam tradisi Jawa, angka 3 (telu) bukan sekadar kelanjutan hitungan setelah siji lan loro, tetapi melambangkan kelengkapan pertama. Jika angka 1 adalah asal, angka 2 adalah pasangan dan perbedaan, maka angka 3 adalah tatanan: titik ketika sesuatu mulai berdiri utuh dan memiliki bentuk yang lebih mapan.
b. Dalam primbon, angka 3 sering dihubungkan dengan keseimbangan tiga unsur utama: cipta (pikiran), rasa (perasaan), dan karsa (kehendak). Ketiga unsur inilah yang membentuk laku manusia, baik dalam tindakan lahiriah maupun batiniah.
2. Nuansa Sastra dan Budaya di Balik Telu
a. Sastra Jawa kerap menghadirkan pola tiga: tiga nasihat utama, tiga tahap perjalanan, tiga rintangan, atau tiga nilai luhur. Pola “telu” ini menciptakan ritme cerita yang terasa lengkap, seperti gending yang mencapai reff-nya.
b. Dalam budaya, angka 3 tampak pada tiga lapis penghormatan: hormat kepada Gusti, wong tuwa (orang tua), dan sesama. Ia juga hadir dalam tata sikap: tata krama, tata basa, tata laku. Primbon memotret angka 3 sebagai tangga yang membawa manusia naik dari sekadar hidup menjadi “urip kang migunani” – hidup yang berguna.
B. Filsafat Kejawen: Telu sebagai Trilogi Kehidupan
1. Cipta, Rasa, Karsa sebagai Tiga Pilar Batin
a. Dalam pandangan Kejawen, manusia adalah makhluk yang disusun dari cipta, rasa, dan karsa.
Cipta: kemampuan berpikir, merancang, dan menimbang.
Rasa: kemampuan merasakan, berempati, dan menangkap hal-hal halus.
Karsa: daya kehendak untuk melakukan sesuatu.
b. Angka 3 menjadi lambang bahwa hidup baru selaras bila tiga hal ini bekerja seimbang. Bila hanya cipta tanpa rasa, manusia dingin; bila hanya rasa tanpa cipta, manusia hanyut; bila karsa tanpa keduanya, manusia mudah tersesat.
2. Triloka: Jagad Dhuwur, Tengah, lan Ngisor
a. Filsafat Jawa juga mengenal triloka:
- Jagad dhuwur (alam luhur, dimensi ketuhanan dan kemalaikatan),
- Jagad tengah (dunia manusia, ladang laku dan ujian),
- Jagad ngisor (alam bawah, simbol nafsu rendah dan kekacauan).
b. Angka 3 melambangkan kesadaran bahwa manusia berjalan di jagad tengah, tetapi selalu ditarik oleh dua arah: ke atas menuju keluhuran, dan ke bawah menuju kerendahan. Primbon mengajari manusia untuk menata langkah agar lebih condong pada jagad dhuwur, tanpa mengingkari keberadaan jagad ngisor sebagai ujian.
C. Angka 3 dalam Struktur Primbon: Hitungan, Watak, dan Laku
1. Neptu dan Simbol Telu dalam Hitungan Jawa
a. Dalam sistem neptu, angka 3 sering dihubungkan dengan gerak, keaktifan, dan dinamika. Ia menggambarkan watak yang tidak betah diam: senang berbuat, mencoba, dan berinteraksi.
b. Dalam praktik primbon, angka 3 bisa menjadi isyarat:
- Cocok untuk memulai usaha yang membutuhkan pergerakan dan interaksi sosial.
- Baik untuk kegiatan belajar, diskusi, dan pertemuan.
- Menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya bertumpu pada satu faktor, tetapi “telu” – usaha, doa, dan restu.
2. Watak Telu: Kreatif, Lincah, tapi Perlu Dikendalikan
a. Sifat positif angka 3 dalam primbon:
- Kreatif dan penuh gagasan.
- Mudah bergaul, pandai menjalin relasi.
- Fleksibel dan mampu melihat masalah dari beberapa sisi.
- Tidak kaku, senang suasana hidup dan dinamis.
b. Sifat negatif yang perlu dijaga:
- Cenderung mudah berpindah fokus, kurang tuntas.
- Berpotensi suka bergurau berlebihan, kurang serius pada hal penting.
- Kadang memakai kata-kata manis yang bisa menjerumuskan bila tidak disertai niat baik.
c. Primbon memberi pesan bahwa energi telu yang kuat harus diarahkan pada karya dan dharma, bukan sekadar kesenangan sesaat.
3. Laku dan Tirakat dengan Pola Tiga
a. Beberapa laku Jawa menggunakan pola tiga:
- Tiga malam tirakat untuk memohon kejelasan jalan hidup.
- Tiga kali sowan (bertamu) sebagai bentuk kesungguhan.
- Tiga kali mengulang janji dalam adat tertentu, sebagai pengokohan komitmen.
b. Pola telu ini menjadi simbol bahwa niat, ucapan, dan perbuatan harus ditegaskan lebih dari sekali, agar tidak sekadar menjadi angin lalu.
D. Telu dalam Sastra Jawa: Tiga Tahap, Tiga Tokoh, Tiga Ujian
1. Struktur Cerita: Awal, Tengah, Akhir
a. Sastra Jawa, baik serat maupun cerita rakyat, sering disusun dalam tiga fase:
- Wiwitan (awal): perkenalan tokoh dan masalah.
- Tengahan: konflik, ujian, dan pencarian jalan keluar.
- Pungkasan: penyelesaian, pemaknaan, dan pamungkas.
b. Pola ini sejalan dengan makna angka 3 sebagai kelengkapan perjalanan. Hidup pun dipandang memiliki tiga tahap: masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa mekar atau tua – masing-masing dengan pelajarannya sendiri.
2. Tiga Tokoh atau Tiga Peran dalam Satu Lakon
a. Dalam banyak cerita wayang atau serat, kita bisa melihat pola tiga peran:
- Ksatria (pelaku utama yang menjalani laku).
- Guru atau resi (pemberi arah).
- Panakawan (penyampai kritik dan kebenaran dengan cara sederhana).
b. Ketiganya mencerminkan tiga suara di dalam diri manusia:
- Keberanian bertindak.
- Kebijaksanaan batin.
- Kejujuran yang kadang hadir lewat canda dan kesederhanaan.
3. Tiga Nilai Utama dalam Pitutur Jawa
a. Banyak pitutur yang menyiratkan tiga nilai utama, misalnya:
- “Rila, legawa, narima” – rela, lapang hati, dan menerima dengan ikhlas.
- “Toto, titi, tentrem” – tertata, teliti, dan membawa kedamaian.
b. Tiga kata dalam satu rangkaian menunjukkan bahwa keluhuran budi tidak cukup satu dimensi, tetapi harus menyentuh pikiran, rasa, dan tindakan.
E. Angka 3 dalam Budi Pekerti dan Tata Sosial Jawa
1. Hubungan dengan Gusti, Wong Tuwa, lan Sesami
a. Dalam kultur Jawa, ada tiga lingkar penghormatan utama:
- Marang Gusti (kepada Tuhan).
- Marang wong tuwa lan guru.
- Marang sesami (kepada sesama manusia).
b. Angka 3 menjadi pola tanggung jawab moral: manusia Jawa idealnya menjaga tiga hubungan ini dengan seimbang. Mengabaikan salah satunya dianggap mengganggu harmoni hidup.
2. Tata Krama, Tata Basa, Tata Laku
a. Budi pekerti Jawa sangat menekankan:
- Tata krama: sikap dan gerak tubuh yang sopan.
- Tata basa: pilihan kata yang halus dan penuh hormat.
- Tata laku: perilaku yang mencerminkan kejujuran dan tanggung jawab.
b. Ketiganya adalah wujud konkret dari makna angka 3: kelengkapan sikap lahir-batin. Orang yang hanya halus bicaranya tapi tidak halus lakunya dianggap belum “telu” secara utuh.
F. Dimensi Spiritual: Tiga Arah Laku Batin
1. Ngerti, Ngrasa, Nglakoni
a. Dalam laku spiritual Jawa, ada tiga tahap penting:
- Ngerti: memahami secara pengetahuan.
- Ngrasa: mengalami dengan rasa dan batin.
- Nglakoni: menghidupkan pemahaman itu dalam tindakan nyata.
b. Angka 3 di sini melambangkan perjalanan dari kepala, turun ke hati, lalu memancar lewat tangan dan kaki. Ilmu yang berhenti di “ngerti” saja dianggap belum menyatu dalam diri.
2. Telu minangka Jalan Balik marang Siji
a. Setelah manusia belajar tentang asal (1), perbedaan (2), dan kelengkapan (3), ia diajak untuk mengolah semua itu menjadi kesadaran tunggal kembali pada Sang Sumber.
b. Dalam perspektif ini, angka 3 bukan akhir, tetapi jembatan: saat cipta, rasa, dan karsa sudah selaras, manusia lebih dekat pada jalan “siji” – manunggaling kawula lan Gusti dalam makna batin yang dalam dan halus.
G. Kesimpulan: Telu sebagai Gamelan Hidup Wong Jawa
1. Merangkum Makna Angka 3
a. Angka 3 dalam primbon, sastra, dan budaya Jawa adalah lambang kelengkapan pertama: trilogi cipta–rasa–karsa; tiga tahap hidup; tiga lingkar penghormatan; tiga lapis tata budi.
b. Ia hadir dalam struktur cerita, dalam laku tirakat, dalam pitutur, dan dalam tata sosial. Telu bukan hanya bilangan, tapi “gamelan” nilai yang bila ditata dengan benar akan melahirkan harmoni urip.
2. Pelajaran bagi Laku Manusia Jawa Masa Kini
a. Di tengah dunia yang serba cepat dan fragmentaris, makna angka 3 mengingatkan kita untuk tidak timpang satu sisi: jangan hanya pintar berpikir tanpa rasa, jangan hanya peka rasa tanpa kendali nalar, dan jangan hanya berkehendak tanpa pertimbangan moral.
b. Angka 3 mengajak manusia untuk menata kembali kehidupan dengan lengkap: ngerti, ngrasa, nglakoni; hormat marang Gusti, wong tuwa, lan sesami; jaga tata krama, tata basa, lan tata laku. Dengan begitu, telu menjadi pijakan kokoh untuk melangkah menuju kesadaran yang lebih luhur.
