“Dari Satu Titik Awal Menuju Kesadaran Luhur Manusia Jawa”
A. Pengantar: Angka 1 dalam Cakrawala Primbon Jawa
1. Kedudukan Angka 1 dalam Tradisi Jawa
a. Dalam pandangan Jawa, angka bukan sekadar alat menghitung, tetapi juga bahasa simbol yang menyimpan pesan tentang hidup, nasib, dan laku batin. Angka 1 (siji) dipahami sebagai permulaan, sebagai garis pertama yang menembus kegelapan menjadi cahaya.
b. Primbon Jawa, yang memadukan pengalaman leluhur, rasa batin, dan pengamatan terhadap alam, menempatkan angka 1 sebagai pancer – pusat yang menjadi acuan bagi hitungan hari, watak, arah hidup, dan berbagai laku ritual.
2. Nuansa Sastra dan Budaya di Balik Siji
a. Sastra Jawa – baik dalam bentuk serat, suluk, tembang, maupun paribasan – sering menyiratkan makna “siji” sebagai kesederhanaan yang justru menyimpan kedalaman. Satu kata, satu janji, satu laku, menjadi cermin budi pekerti.
b. Budaya Jawa menjadikan angka 1 sebagai simbol kesatuan: kesatuan raga dan jiwa, manusia dan alam, serta hamba dan Sang Pencipta. Dari sinilah kita mulai menelusuri makna angka 1 dalam primbon, sastra, dan laku budaya Jawa secara runtut dan menyeluruh.
B. Filsafat Kejawen: Siji sebagai Ketunggalan dan Asal Mula
1. Sangkan Paraning Dumadi dan Makna Satu
a. Ajaran Sangkan Paraning Dumadi menuntun manusia untuk memahami: dari mana ia berasal, bagaimana seharusnya ia hidup, dan ke mana ia akan kembali. Angka 1 menjadi lambang asal mula keberadaan, titik pertama yang menandai “ada” setelah “tiada”.
b. Dalam kerangka ini, siji bukan hanya bilangan tunggal, tetapi juga lambang ketunggalan – bahwa di balik segala keragaman, ada satu sumber yang meliputi dan menghidupi segalanya.
2. Jagad Cilik dan Jagad Gedhe
a. Jagad Cilik adalah manusia sebagai semesta kecil, dengan pikiran, rasa, dan kehendak; Jagad Gedhe adalah alam raya, dengan gunung, laut, langit, dan semua isinya. Siji menjadi jembatan batin yang menyatukan keduanya: manusia harus selaras dengan alam karena mereka berasal dari sumber yang sama.
b. Primbon sering menempatkan angka 1 sebagai simbol kesadaran bahwa tindakan manusia berdampak pada tatanan jagad. Satu niat buruk dapat mengguncang harmoni, sementara satu niat baik dapat menjadi benih kebaikan yang berkembang luas.
C. Angka 1 sebagai Pancer dalam Struktur Primbon
1. Konsep Papat Kiblat Lima Pancer
a. Dalam pandangan kosmologi Jawa, ada empat arah (papat kiblat): timur, selatan, barat, utara; dan satu pusat (pancer). Angka 1 adalah lambang pancer yang mengikat keempat arah itu agar tidak tercerai-berai.
b. Pancer ini dihubungkan dengan hati atau batin manusia. Jika pancer kuat, maka seluruh arah hidup – pikiran, ucapan, perbuatan, dan keinginan – bergerak selaras.
2. Neptu dan Hitungan Satu dalam Primbon
a. Dalam primbon, setiap hari, pasaran, bahkan peristiwa, memiliki nilai neptu. Beberapa tradisi memberikan nilai 1 pada unsur tertentu (misalnya hari tertentu dalam sistem tertentu). Neptu 1 biasanya dihubungkan dengan sifat awal, penanda permulaan, dan energi yang belum terbagi.
b. Angka 1 sering digunakan untuk menentukan:
- Hari yang tepat untuk memulai usaha atau pekerjaan baru.
- Momentum untuk memulai laku tertentu (tapa, tirakat, atau tekad baru).
- Pola dasar watak seseorang yang cenderung kuat, mandiri, dan suka mendahului.
D. Siji dalam Sastra Jawa: Simbol, Pitutur, dan Laku
1. Serat, Suluk, dan Seruan untuk Menjadi Satu
a. Dalam berbagai serat dan suluk, satu nilai sering dijadikan poros: eling lan waspada, satya lan luhur, tata, titi, titi pranata. Nilai-nilai ini tidak dibentangkan terpisah, tetapi disatukan dalam satu garis ajaran yang lurus, sebagaimana bentuk angka 1.
b. Siji menjadi lambang konsistensi: manusia Jawa diajak untuk tidak terpecah oleh hawa nafsu, tetapi menyatukan rasa, nalar, dan iman dalam satu kesadaran luhur.
2. Paribasan dan Ungkapan tentang “Siji”
a. Beberapa pitutur lisan mencerminkan makna angka 1, misalnya:
- “Sadurunge ana loro, mesthi ana siji.” – sebelum ada dua, pasti ada satu.
- “Siji dadi wiwitan, wiwitan dadi tuntunan.” – satu menjadi permulaan, permulaan menjadi tuntunan.
b. Ungkapan ini menekankan bahwa segala sesuatu bermula dari satu tekad, satu langkah, satu keberanian untuk memulai. Tanpa langkah pertama, perjalanan tidak akan pernah terjadi.
E. Watak, Budi Pekerti, dan Etika Siji
1. Sifat Positif yang Dipancarkan Angka 1
a. Angka 1 dalam primbon sering ditafsirkan sebagai lambang kekuatan, keberanian, dan kemandirian. Orang yang “berwatak siji” dipandang:
- Tanggap dan sigap memulai sesuatu.
- Tidak takut menjadi yang pertama mengambil risiko.
- Teguh dalam pendirian dan tidak mudah goyah.
b. Watak ini sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan – baik di keluarga, masyarakat, maupun lingkungan yang lebih luas.
2. Bayangan Negatif dan Keseimbangan yang Diperlukan
a. Namun, sebagaimana matahari yang terlalu terik dapat menyengat, angka 1 juga menyimpan potensi bayangan: keras kepala, merasa paling benar, enggan mendengarkan orang lain.
b. Primbon dan pitutur Jawa mengingatkan bahwa kekuatan satu harus dilunakkan dengan kelembutan, kesabaran, dan kerendahan hati. Siji yang ideal adalah satu yang bersedia merangkul yang lain, bukan menyingkirkan.
3. Satunya Kata lan Laku
a. Dalam budaya Jawa, ada prinsip luhur: “satunya kata lan laku” – kesatuan antara ucapan dan perbuatan.
b. Inilah bentuk tertinggi dari makna angka 1 dalam budi pekerti: satu mulut, satu hati, satu tindakan. Tidak berpura-pura, tidak bercabang, tidak mendua.
F. Kosmologi Vertikal: Garis Siji antara Langit dan Bumi
1. Angka 1 sebagai Garis Vertikal Rohani
a. Bentuk angka 1 yang tegak dan lurus sering ditafsirkan sebagai simbol garis penghubung antara bumi dan langit. Manusia berdiri di tengah-tengah, menjadi titik kecil dalam garis besar perjalanan kosmik.
b. Garis ini melambangkan doa, kesadaran, dan laku spiritual: dari tanah tempat kaki berpijak, menuju langit tempat harap dan doa dipanjatkan.
2. Pancer Diri dan Keteguhan Batin
a. Di dalam diri manusia ada pancer diri, pusat rasa paling dalam. Pancer inilah “angka 1” di dalam batin: satu titik hening yang menjadi sumber kejernihan.
b. Manakala pancer diri terganggu, manusia mudah limbung. Namun ketika pancer terjaga – lewat doa, laku, dan kesadaran – manusia mampu bersikap teguh, seperti angka 1 yang tidak mudah dibengkokkan.
G. Kesimpulan: Satu sebagai Cahaya Awal dan Tujuan Akhir
1. Merangkum Makna Siji dalam Primbon, Sastra, dan Budaya
a. Angka 1 dalam primbon Jawa bukan hanya bilangan permulaan, tetapi simbol yang menyatukan filosofi, sastra, dan laku budaya. Ia adalah pancer, asal mula, garis lurus, dan titik hening yang menuntun manusia.
b. Dalam sastra, siji hadir sebagai simbol kesederhanaan yang mendalam; dalam etika, ia menjadi ajaran satunya kata dan laku; dalam kosmologi, ia menjadi poros vertikal antara bumi dan langit.
2. Pelajaran bagi Manusia Jawa Masa Kini
a. Di tengah dunia yang semakin ramai dan berlapis-lapis, makna angka 1 mengingatkan manusia untuk kembali pada satu kesadaran: siapa dirinya, dari mana ia datang, dan ke mana ia akan kembali.
b. Satu tekad lurus untuk berlaku jujur, adil, dan eling marang Gusti adalah inti dari semua hitungan. Sebab, setinggi apa pun angka yang kita susun, semuanya bertumpu pada satu: siji minangka pancering urip – satu sebagai pusat kehidupan.
