“Ngudi Rahayu, Ngambah Katentreman, Nglakoni Urip Secara Tertata”
A. Pengertian Tatanan dalam Pandangan Jawa
1. Tatanan sebagai Jalan Hidup (Laku)
a. Bagi masyarakat Jawa, tatanan bukan sekadar aturan, tetapi pola hidup yang menjaga keseimbangan lahir dan batin.
b. Tatanan dipandang sebagai pagar halus yang membimbing langkah agar selaras dengan alam dan sesama.
c. Primbon berfungsi sebagai pedoman yang menjelaskan bagaimana tatanan itu diterapkan dalam kehidupan nyata.
2. Tatanan sebagai Ruang Harmoni
a. Tatanan mencerminkan keseimbangan antara rasa, pikir, dan tindakan.
b. Orang Jawa melihat kehidupan sebagai kesatuan jagad cilik dan jagad gede, sehingga tatanan menjadi jembatan di antara keduanya.
c. Primbon memberi struktur agar setiap aspek hidup tidak saling bertabrakan tetapi bekerja seperti gamelan yang rapi.
3. Tatanan sebagai Bentuk Keselarasan Sosial
a. Dalam budaya Jawa, ketertiban sosial adalah modal utama hidup tenteram.
b. Primbon memberikan pengetahuan mengenai kapan bertindak, bagaimana berbicara, serta bagaimana menempatkan diri.
c. Aturan-aturan kecil dalam primbon memperhalus relasi antar-individu.
B. Sejarah Pembentukan Tatanan dalam Primbon
1. Masa Pra-Keraton: Tatanan Berdasar Titen
a. Sebelum tertulis, tatanan hidup diturunkan melalui titen: membaca tanda alam dan perilaku masyarakat.
b. Tatanan lahir dari kebutuhan menjaga keselarasan hidup agraris.
c. Nilai-nilai seperti gotong-royong, rukun, dan tepa selira menjadi fondasinya.
2. Masa Hindu–Buddha: Tatanan Kosmologis
a. Filsafat dharma memperkaya struktur primbon dengan prinsip keseimbangan universal.
b. Konsep dewa-dewi, mandala, dan paweling membentuk tatanan ruang dan ritus.
c. Primbon mulai memiliki bentuk yang lebih teratur dan simbolis.
3. Masa Islam Kejawen: Tatanan Laku Batin
a. Masuknya Islam memperkenalkan nilai kesederhanaan, doa, dan akhlak.
b. Tasawuf membentuk tatanan batin: nglakoni, tirakat, nglowong, dan nyepi.
c. Primbon menggabungkan kosmologi lama dengan kedalaman spiritual baru.
4. Masa Keraton: Sistematisasi Tatanan Adiluhung
a. Keraton menata ulang primbon menjadi pedoman perilaku resmi.
b. Aturan jamasan, tata panggih, tata ruang, dan tata busana dilembagakan melalui primbon.
c. Primbon menjadi fondasi etik, estetik, dan spiritual dalam lingkungan keraton dan masyarakat umum.
C. Tatanan Waktu dalam Primbon
1. Waktu sebagai Energi yang Bergerak
a. Waktu tidak dilihat sebagai angka, tetapi sebagai gelombang energi yang naik dan turun.
b. Primbon mengajarkan bahwa setiap waktu memancarkan watak berbeda.
c. Memahami watak waktu berarti memahami peluang dan tantangan hidup.
2. Sistem Weton dan Wuku
a. Weton memberi gambaran dasar karakter seseorang dan kecenderungan hidupnya.
b. Wuku menjadi kalender siklus yang menata peristiwa tahunan.
c. Kedua sistem ini menjadi panduan memilih hari baik, membaca nasib, dan menentukan keputusan.
3. Mangsa dan Tatanan Alam
a. Mangsa adalah pembagian musim yang menyelaraskan manusia dengan alam.
b. Setiap mangsa memiliki pesan moral dan aktivitas yang disarankan.
c. Tatanan ini berfungsi sebagai kalender agraris sekaligus kalender spiritual.
D. Tatanan Ruang dalam Primbon
1. Arah sebagai Makna dan Energi
a. Setiap arah memiliki watak: utara tegas, selatan teduh, timur terang, barat kokoh.
b. Penataan ruang rumah berdasarkan arah dimaksudkan untuk menyeimbangkan energi.
c. Ruang pribadi, publik, dan sakral dipisahkan berdasarkan prinsip arah.
2. Halaman, Pintu, dan Letak Sumur
a. Letak sumur, dapur, dan kandang merupakan bagian dari tatanan ruang rumah Jawa.
b. Primbon memberi pedoman agar ruang kehidupan tidak saling mengganggu.
c. Struktur ruang ini menjaga keharmonisan keluarga.
3. Ruang Simbolis
a. Rumah bukan sekadar bangunan, tetapi “bangsal batin” manusia.
b. Setiap sudut dan benda memiliki simbol keseimbangan dan keselamatan.
c. Primbon menempatkan rumah sebagai cerminan diri pemiliknya.
E. Tatanan Relasi dalam Primbon
1. Tata Krama dan Unggah-Ungguh
a. Primbon menjelaskan bagaimana bersikap sopan santun dalam berbagai situasi.
b. Tata krama melatih seseorang menjaga ucapan dan tindakan.
c. Dengan tata krama, konflik sosial dapat dihindari secara halus.
2. Tepa Selira dan Andhap Asor
a. Nilai tepa selira mengajarkan empati yang melembutkan relasi sosial.
b. Andhap asor bukan merendahkan diri, melainkan menghormati orang lain.
c. Dua nilai ini membentuk pondasi masyarakat yang rukun.
3. Tatacara Pergaulan
a. Primbon memberi pedoman cara bertemu, menyapa, dan memberi hormat.
b. Setiap tindakan kecil membawa konsekuensi rasa.
c. Tatanan ini menjaga keharmonisan dalam pergaulan sehari-hari.
F. Tatanan Batin dalam Primbon
1. Laku dan Tirakat
a. Laku ditempuh untuk membersihkan batin dari hawa nafsu yang mengganggu keseimbangan.
b. Tirakat menjadi cara mendidik diri mendengar suara hati.
c. Primbon memberi pedoman jenis tirakat sesuai tujuan batin.
2. Rasa sebagai Penuntun
a. Rasa adalah kompas batin dalam budaya Jawa.
b. Primbon mengajarkan cara mengasah rasa agar bisa membaca tanda halus.
c. Rasa yang tajam membuat seseorang lebih peka terhadap keadaan sekitarnya.
3. Kekuatan Doa dan Laku Spiritual
a. Doa dipandang sebagai energi halus yang menyeimbangkan ruang batin.
b. Primbon menempatkan doa sebagai jembatan antara manusia dan Tuhan.
c. Doa dan laku spiritual membangun ketenteraman jiwa.
G. Peran Tatanan Primbon dalam Kehidupan Modern
1. Mengatur Ritme Hidup yang Serba Cepat
a. Tatanan primbon membantu masyarakat menemukan ketenangan di tengah kesibukan.
b. Memahami pola waktu dan ruang membantu mengambil keputusan bijak.
c. Tatanan primbon menjadi pedoman untuk menjaga keseimbangan mental.
2. Identitas Budaya di Era Digital
a. Tatanan primbon menjadi penanda jati diri di tengah globalisasi.
b. Masyarakat Jawa modern tetap memanfaatkan primbon untuk acara keluarga dan adat.
c. Primbon menjadi harta budaya yang dipahami ulang melalui teknologi.
3. Primbon sebagai Pedoman Etika Sosial Baru
a. Nilai tepa selira menjadi solusi bagi konflik digital dan interaksi daring.
b. Tata krama Jawa memberi inspirasi etika komunikasi modern.
c. Primbon mengajarkan bagaimana bersikap dewasa dalam dunia yang cepat berubah.
H. Landasan Literatur
1. Sumber Primer
a. Primbon Betaljemur Adammakna
b. Serat Centhini
c. Sastra Miruda
d. Serat Wulang Reh
2. Sumber Sekunder
a. Koentjaraningrat – Kebudayaan Jawa
b. Simuh – Mistik Islam Kejawen
c. Mark Woodward – Islam Jawa
d. Clifford Geertz – The Religion of Java
——————
I. Kesimpulan
1. Tatanan kehidupan Jawa dalam primbon adalah sistem yang mengikat lahir dan batin.
2. Ia mengatur ruang, waktu, relasi, dan batin manusia agar menjadi pribadi yang rukun dan tenteram.
3. Tatanan ini bukan aturan mati, tetapi ilmu hidup yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
4. Primbon menjadi salah satu fondasi kebudayaan Jawa, yang keindahannya tidak pernah pudar oleh waktu.
