“Manusia sebagai Semesta Kecil, Semesta sebagai Manusia Besar — Keselarasan yang Menjaga Dunia Tetap Berjalan”
A. Pengantar Kosmologi Jawa dalam Primbon
1. Hakikat Dua Jagad dalam Filsafat Jawa
a. Dalam pandangan Jawa, semesta terbagi menjadi dua wilayah yang saling merefleksi: jagad cilik (mikrokosmos) dan jagad gedhé (makrokosmos).
b. Jagad cilik adalah diri manusia: tubuh, pikiran, rasa, nafsu, dan sukma.
c. Jagad gedhé adalah alam semesta: bumi, langit, musim, arah, waktu, dan segala getaran metafisik.
2. Primbon sebagai Jembatan Dua Semesta
a. Primbon tidak memandang manusia sebagai makhluk terpisah; sebaliknya, manusia adalah miniatur alam, replika harmoni kosmis yang hidup.
b. Apa yang terjadi dalam diri manusia adalah gema dari gerak semesta; begitu pula sebaliknya.
c. Primbon menjadi panduan untuk memahami ritme jagad gedhé melalui pengalaman jagad cilik.
3. Keselarasan sebagai Hukum Utama Kosmos Jawa
a. Orang Jawa percaya bahwa keseimbangan antara dua jagad ini menentukan keselamatan dan kebahagiaan.
b. Jika hati rusak, alam sekitar terasa berat; jika alam kacau, batin manusia terguncang.
c. Primbon berfungsi untuk memulihkan keseimbangan ini melalui tata laku, ritual, perhitungan waktu, dan pembacaan tanda-tanda alam.
B. Sejarah Kosmologi Jawa: Dari Leluhur hingga Keraton
1. Kosmologi Pra-Hindu: Alam sebagai Guru Agung
a. Sebelum mengenal agama-agama besar, masyarakat Jawa purba menyembah kekuatan alam: gunung, hutan, air, dan angin.
b. Mereka percaya bahwa setiap unsur alam memiliki kesadaran dan kehendak.
c. Pemahaman ini melahirkan konsep awal jagad gedhé yang hidup, bergerak, dan berjiwa.
2. Pengaruh Hindu–Buddha: Penataan Kosmos Secara Sistematis
a. Kedatangan Hindu membawa struktur alam semesta dalam tiga lapis: bhurloka, bhuwarloka, dan swarloka.
b. Buddhisme menambahkan prinsip keseimbangan dan keterhubungan, yang kemudian menjadi inti kosmologi Jawa.
c. Dari sinilah muncul prinsip harmoni universal, yang kelak menjadi fondasi primbon.
3. Masuknya Islam dan Tasawuf: Pendalaman Dimensi Batin
a. Tasawuf memperkenalkan ajaran martabat tujuh dan nur Muhammad, yang selaras dengan konsep jagad cilik–jagad gedhé.
b. Islam memperhalus konsep kesatuan kosmos melalui ajaran kehendak Ilahi dan ketaatan batin.
c. Kosmologi Jawa pasca-Islam menjadi lebih batiniah dan mistik, tanpa meninggalkan akar-akar lamanya.
4. Era Keraton: Penyempurnaan dan Penulisan Kosmologi Kerajaan
a. Keraton Yogyakarta dan Surakarta mengodifikasi seluruh pengetahuan kosmologis dalam berbagai serat, di antaranya:
- Serat Centhini
- Serat Wedhatama
- Serat Wulangreh
Primbon Betaljemur Adammakna
b. Kosmologi Jawa menjadi sistem filsafat, ritual, dan petungan yang tertata rapi.
c. Keraton menempatkan kosmologi sebagai dasar etika, tata negara, hingga spiritualitas keluarga bangsawan.
C. Struktur Jagad Cilik: Semesta dalam Diri Manusia
1. Tubuh (Jasad) sebagai Wadah Jagad
a. Tubuh dipandang bukan hanya sebagai raga, tetapi sebagai “cakra kecil” yang menyimpan peta kosmos.
b. Setiap bagian tubuh manusia dianggap memiliki hubungan dengan unsur alam tertentu.
c. Penyakit fisik sering dilihat sebagai ketidakseimbangan antara unsur air, api, tanah, dan angin dalam tubuh.
2. Pikiran (Cipta) sebagai Pengatur Gelombang Kosmos
a. Pikiran manusia adalah pusat gelombang energi; ia memengaruhi tindakan dan membuka pintu nasib.
b. Dalam primbon, pikiran yang kacau dapat mengganggu harmoni semesta kecil dan besar sekaligus.
c. Oleh karena itu, pengendalian pikiran menjadi laku utama bagi orang Jawa.
3. Rasa sebagai Mata Batin Jagad Cilik
a. Rasa adalah sensor batin yang paling halus—lebih halus dari pikiran, lebih lembut dari kata.
b. Rasa memungkinkan manusia menangkap tanda-tanda alam secara intuitif.
c. Primbon menyarankan manusia untuk mempertajam rasa melalui puasa, tirakat, dan kesunyian.
4. Sukma sebagai Pusat Hubungan dengan Jagad Gedhé
a. Sukma adalah inti kesadaran, percikan cahaya Ilahi yang menghubungkan manusia dengan langit.
b. Sukma yang bersih mampu menangkap getaran halus alam semesta.
c. Primbon menyediakan laku-laku pembersihan sukma melalui ruwatan dan tapa brata.
D. Struktur Jagad Gedhé: Semesta Luas yang Selalu Berbicara
1. Unsur Empat Alam: Angin, Api, Air, Tanah
a. Empat unsur ini membentuk dasar energi semesta yang juga hadir dalam diri manusia.
b. Ketidakseimbangan satu unsur dapat memengaruhi cuaca, suasana batin, atau nasib tertentu.
c. Primbon mengajarkan cara membaca keseimbangan unsur melalui tanda langit dan alam.
2. Watu, Wit, dan Kahanan: Alam sebagai Penuntun
a. Batu, pohon, dan keadaan alam diyakini menyimpan energi atau pesan tertentu.
b. Tempat-tempat keramat dianggap sebagai simpul energi kosmis yang memancarkan kekuatan spiritual.
c. Orang Jawa diajarkan untuk menghormati alam, karena ia adalah “jagad gedhé” yang hidup.
3. Pergerakan Waktu dan Arah
a. Waktu memiliki kualitas tertentu; tidak ada waktu yang sama.
b. Arah mata angin dijaga oleh makhluk dan energi penunggu yang disebut catur gatra tunggal.
c. Primbon memanfaatkan arah dan waktu untuk menentukan hari baik, arah bangunan, dan ritual besar.
E. Persinggungan Kedua Jagad: Manusia sebagai Cermin Semesta
1. Prinsip Refleksi Kosmis
a. Apa yang terjadi dalam diri manusia adalah pantulan dari keadaan alam.
b. Bila batin gelisah, angin terasa berat; bila hati sedih, hujan turun tanpa alasan.
c. Kosmologi Jawa mengajarkan bahwa manusia dan alam tidak pernah terpisah.
2. Prinsip Korespondensi Simbolik
a. Gerak rasi bintang menandai perubahan batin manusia.
b. Siklus musim memengaruhi siklus hidup manusia.
c. Primbon mencatat korespondensi ini dalam petungan weton, neptu, dan wuku.
3. Prinsip Harmoni Laku
a. Seorang manusia harus menyesuaikan tindakannya dengan ritme semesta.
b. Keserakahan, tergesa-gesa, dan amarah dianggap melawan gerak jagad gedhé.
c. Laku utama orang Jawa adalah menjaga batin tetap bening agar tidak melahirkan kekacauan di luar.
F. Implementasi Jagad Cilik–Jagad Gedhé dalam Primbon
1. Dalam Petungan Weton
a. Weton adalah titik pertemuan energi jagad cilik (lahir seseorang) dan getaran jagad gedhé (hari–pasaran).
b. Kesesuaian weton menentukan apakah seseorang akan mengalir selaras dengan semesta atau melawan arusnya.
c. Oleh karena itu, weton digunakan untuk jodoh, pekerjaan, arah hidup, dan ruwatan.
2. Dalam Pranata Mangsa
a. Pranata mangsa menunjukkan hubungan kuat antara jagad gedhé (musim) dan jagad cilik (hasil panen, kesehatan, dan rezeki).
b. Petani Jawa membaca tanda-tanda alam sebagai pesan semesta.
c. Primbon memadukan pranata mangsa dengan petungan harian agar manusia tidak keliru membaca waktu.
3. Dalam Ruwatan dan Ritual Keselamatan
a. Ruwatan bertujuan memulihkan keseimbangan jagad cilik agar sesuai dengan harmoni jagad gedhé.
b. Upacara menggunakan simbol api, air, tanah, dan angin untuk menata kembali getaran sukma.
c. Ruwatan Wuku Wayang adalah contoh paling terkenal dari penyelarasan kosmos.
G. Landasan Naskah dan Sumber Kosmologi Jawa
1. Sumber Primer
a. Serat Centhini: memuat kosmologi perjalanan, laku batin, dan tata alam.
b. Primbon Betaljemur: menjelaskan petungan dan hubungan manusia–alam.
c. Serat Kawruh Jawa: memuat ajaran unsur empat dan energi kosmos.
d. Naskah wuku dan pranata mangsa keraton.
2. Sumber Sekunder
a. Geertz — The Religion of Java.
b. Woodward — kajian Islam–Jawa.
c. Koentjaraningrat — nilai budaya Jawa.
d. Simuh — mistik Kejawen.
3. Sumber Modern
a. Penelitian kosmologi Jawa oleh UGM dan UNS.
b. Digitalisasi manuskrip keraton Yogyakarta–Surakarta.
c. Penelitian lintas-budaya tentang mikrokosmos–makrokosmos Nusantara.
H. Kesimpulan
1. Jagad cilik dan jagad gedhé adalah inti kosmologi Jawa yang hidup dan membentuk seluruh struktur primbon.
2. Manusia dianggap miniatur semesta—apa pun yang dilakukan manusia akan bergema dalam jagad besar.
3. Kerusakan batin dapat memicu ketidakharmonisan alam; alam yang kacau menandai manusia yang abai terhadap keselarasan.
4. Primbon menjadi jembatan antara manusia dan semesta: melalui weton, neptu, pranata mangsa, simbol alam, dan laku batin.
5. Kesempurnaan manusia Jawa adalah ketika ia mampu menjaga harmoni dua jagad—diri dan dunia, batin dan alam, kecil dan besar.
