Khazanah Tari Tradisional di Indonesia: Kekayaan Budaya yang Harus Dilestarikan

Samadya.id | (Pendahuluan) – Tari tradisional merupakan salah satu bentuk ekspresi seni yang telah menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya Indonesia. Keindahan gerakan, filosofi mendalam, serta keunikan dari setiap daerah membuat tari tradisional menjadi simbol keberagaman budaya Nusantara.

Menurut data yang dihimpun oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), tercatat sekitar 671 jenis tari tradisional yang telah diinventarisasi di Indonesia, di mana 110 di antaranya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Beberapa tarian bahkan telah mendapatkan pengakuan internasional dari UNESCO, seperti Tari Saman dari Aceh dan Tiga Genre Tari Tradisional dari Bali.

Dalam artikel ini, kita akan membahas kekayaan tari tradisional Indonesia, jenis-jenisnya, serta upaya yang harus dilakukan untuk melestarikannya.


1. Tari Tradisional: Simbol Identitas dan Keanekaragaman Budaya

Tari tradisional berkembang dari generasi ke generasi dan merepresentasikan kehidupan sosial, sejarah, serta kearifan lokal masyarakat. Dalam perkembangannya, tari tradisional di Indonesia dapat dibedakan menjadi tiga kategori utama:

a. Tari Klasik

Tari klasik adalah tari yang berkembang di lingkungan istana atau kerajaan dan memiliki aturan baku dalam penyajiannya. Tarian ini biasanya ditampilkan dalam acara kerajaan atau upacara adat yang sakral.

Contoh tari klasik Indonesia:

Tari Bedhaya (Jawa Tengah) → Tarian sakral yang hanya ditampilkan di lingkungan keraton.

Tari Srimpi (Yogyakarta) → Ditampilkan oleh empat penari dengan gerakan anggun dan lemah lembut.

Tari Gending Sriwijaya (Sumatera Selatan) → Tarian penyambutan khas Kesultanan Palembang.

b. Tari Rakyat

Tari rakyat berkembang di masyarakat umum dan lebih bersifat spontan, penuh kegembiraan, serta sederhana. Biasanya, tarian ini memiliki fungsi hiburan dan dilakukan dalam acara sosial.

Contoh tari rakyat:

Tari Jaipong (Jawa Barat) → Gerakannya lincah dan enerjik dengan unsur pencak silat.

Tari Cakalele (Maluku) → Tarian perang yang mencerminkan keberanian para prajurit.

Tari Lego-Lego (NTT) → Tarian pergaulan yang dilakukan secara berkelompok dalam acara adat.

c. Tari Kreasi Baru

Tari kreasi baru merupakan pengembangan dari tari tradisional yang tetap mempertahankan unsur budaya, namun dengan inovasi dalam gerakan, kostum, dan musik.

Contoh tari kreasi baru:

Tari Merak (Jawa Barat) → Menggambarkan keanggunan burung merak.

Tari Rara Ngigel (Yogyakarta) → Tarian yang menggabungkan unsur klasik dan modern.

Tari Kupu-Kupu (Bali) → Terinspirasi dari gerakan kupu-kupu yang berterbangan.

2. Tari Tradisional yang Diakui sebagai Warisan Budaya UNESCO

Beberapa tari tradisional Indonesia telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Dunia, antara lain:

a. Tari Saman (Aceh)

Tari ini berasal dari Suku Gayo, Aceh dan terkenal karena keharmonisan gerakan yang cepat serta ritmis.

Ditampilkan oleh belasan hingga puluhan penari pria yang duduk berjajar dan melakukan gerakan serempak dengan tepukan tangan, dada, dan paha.

Pada tahun 2011, Tari Saman resmi masuk dalam daftar UNESCO Intangible Cultural Heritage of Humanity.

b. Tiga Genre Tari Tradisional Bali

Tiga genre tari Bali yang diakui UNESCO pada 2015 adalah:

1. Tari Wali → Tarian sakral dalam upacara keagamaan (contoh: Tari Rejang).

2. Tari Bebali → Tarian semi-seremonial yang dimainkan dalam ritual adat (contoh: Tari Topeng Pajegan).

3. Tari Balih-Balihan → Tarian hiburan yang berkembang di masyarakat umum (contoh: Tari Legong, Tari Kecak).

Tarian ini merepresentasikan spiritualitas dan hubungan manusia dengan alam semesta.

3. Upaya Pelestarian Tari Tradisional

Meskipun memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, tantangan dalam pelestarian tari tradisional terus meningkat. Generasi muda yang lebih akrab dengan budaya populer sering kali kurang tertarik untuk mempelajari seni tari tradisional. Oleh karena itu, berbagai upaya perlu dilakukan agar seni tari tetap lestari.

a. Memasukkan Tari Tradisional dalam Kurikulum Pendidikan

Mata pelajaran seni budaya di sekolah harus lebih banyak mengajarkan praktik tari tradisional.

Sekolah-sekolah dapat mengadakan ekstrakurikuler tari daerah untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap seni tari.

b. Mendorong Festival dan Kompetisi Tari

Festival Tari Nusantara yang melibatkan sekolah, sanggar seni, dan komunitas budaya dapat meningkatkan apresiasi terhadap seni tari tradisional.

Kompetisi Tari Tradisional Nasional dapat mendorong anak-anak muda untuk terlibat dalam seni tari.

c. Pemanfaatan Media Digital untuk Promosi Tari Tradisional

Membuat video tutorial tari tradisional di platform seperti YouTube dan TikTok agar lebih mudah diakses oleh generasi muda.

Memanfaatkan media sosial untuk menampilkan pertunjukan tari dan memperkenalkan tarian daerah kepada masyarakat luas.

d. Kolaborasi dengan Seniman dan Komunitas Budaya

Mengajak seniman tari dan budayawan untuk mengadakan workshop tari di sekolah dan komunitas.

Menjalin kerja sama dengan sanggar tari daerah untuk mengajarkan tari kepada generasi muda.

e. Pengakuan dan Dukungan Pemerintah

Pemerintah perlu memberikan apresiasi dan insentif kepada para seniman tari tradisional agar mereka terus berkarya.

Menjadikan tari tradisional sebagai atraksi budaya unggulan di sektor pariwisata.

4. Mengapa Tari Tradisional Perlu Dilestarikan?

Melestarikan tari tradisional bukan hanya tentang menjaga warisan leluhur, tetapi juga memastikan bahwa seni budaya tetap relevan bagi generasi mendatang.

Berikut beberapa alasan mengapa tari tradisional harus tetap dijaga:

  • Menjaga Identitas Bangsa → Tari adalah salah satu simbol kekayaan budaya Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain.
  • Meningkatkan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif → Tarian dapat menjadi daya tarik wisata dan mendukung perekonomian masyarakat setempat.
  • Menanamkan Nilai-Nilai Luhur → Tari mengajarkan kedisiplinan, kerja sama, dan penghormatan terhadap budaya.
  • Meningkatkan Rasa Cinta Tanah Air → Generasi muda yang memahami budaya sendiri akan lebih bangga terhadap negaranya.

Kesimpulan

Tari tradisional Indonesia merupakan warisan budaya yang luar biasa kaya dan harus terus dilestarikan. Dengan lebih dari 3.000 tarian yang tersebar di seluruh Nusantara, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat seni tari dunia.

Untuk menjaga eksistensi tari tradisional, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, seniman, lembaga pendidikan, serta masyarakat umum. Dengan pendekatan yang kreatif dan inovatif, seni tari Indonesia tidak hanya akan tetap hidup, tetapi juga semakin dikenal di kancah global.

Mari kita jaga dan lestarikan tari tradisional sebagai bagian dari jati diri bangsa!